TEHERAN (Arrahmah.id) - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan pada Ahad (2/8/2026) bahwa perundingan yang tengah berlangsung dengan Kesultanan Oman mengenai Selat Hormuz murni bersifat bilateral dan bertujuan untuk membangun mekanisme navigasi baru yang melindungi kepentingan nasional Iran.
Baghaei menjelaskan bahwa negosiasi tersebut telah berjalan selama dua bulan tanpa melibatkan pihak ketiga. Ia menekankan bahwa diskusi ini tidak berkaitan dengan isu pembukaan atau penutupan Selat Hormuz, melainkan respons atas disrupsi navigasi yang diakibatkan oleh blokade angkatan laut yang dipersalahkan kepada Amerika Serikat. Menurutnya, kerangka kerja baru ini akan menetapkan jalur pelayaran khusus yang menjamin kedaulatan dan keamanan kedua negara tanpa memulihkan kondisi sebelum perang.
Dalam kesempatan yang sama, Baghaei secara tegas menolak pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa Iran telah meminta kesepakatan dengan Washington dan setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kantor berita resmi Iran, Fars, turut membantah laporan media 'Israel' yang menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah menyetujui proposal yang didukung Qatar, seraya menegaskan bahwa selat tersebut tetap tertutup kecuali bagi jalur yang disetujui oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Selain itu, Baghaei melayangkan peringatan keras kepada negara-negara di kawasan agar tidak membantu operasi militer AS terhadap Iran. Ia mengungkapkan bahwa Menlu Araghchi telah menyampaikan pesan tegas kepada Pakistan dan Turki bahwa negara mana pun yang menyediakan pangkalan militer atau dukungan logistik bagi pasukan AS akan dianggap berada di pihak agresor dan menghadapi hak bela diri Iran. (zarahamala/arrahmah.id)
