Memuat...

Iran Bantah Klaim Trump, Tegaskan Tak Ada Perundingan dengan AS dan Selat Hormuz Tetap Ditutup

Samir Musa
Senin, 3 Agustus 2026 / 20 Safar 1448 22:18
Iran Bantah Klaim Trump, Tegaskan Tak Ada Perundingan dengan AS dan Selat Hormuz Tetap Ditutup
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baqaei, menegaskan Teheran saat ini tidak menggelar perundingan dengan Amerika Serikat dan menyatakan tidak akan ada perubahan status Selat Hormuz selama Washington masih melanjutkan tekanan militer dan blokade laut terhadap Iran. (Foto: Kementerian Luar Negeri Iran)

TEHERAN (Arrahmah.id) – Iran menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat, sekaligus membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengklaim bahwa perundingan baru antara kedua negara akan dimulai pada Senin (3/8/2026).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baqaei, mengatakan seluruh anggota tim perunding Iran saat ini berada di dalam negeri. Karena itu, Teheran tidak memiliki agenda menerima maupun mengirim delegasi untuk melakukan negosiasi dengan pihak mana pun.

"Tidak ada perundingan dengan Amerika saat ini," tegas Baqaei dalam konferensi pers di Teheran, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Senin (3/8).

Ia juga menegaskan bahwa tidak akan ada perubahan terhadap status Selat Hormuz selama Amerika Serikat masih melanjutkan apa yang disebut Iran sebagai agresi militer dan blokade laut terhadap negaranya.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa pembicaraan dengan Iran akan dimulai pada Senin siang. Namun, ia tidak menjelaskan lokasi, pihak yang terlibat, maupun target waktu tercapainya kesepakatan.

Pernyataan Trump muncul setelah pada Sabtu malam ia membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran. Trump mengklaim keputusan itu diambil setelah adanya permintaan dari Iran dan sejumlah negara Teluk. Akan tetapi, pejabat Iran membantah pernah meminta penghentian serangan tersebut.

Pembahasan dengan Oman Hanya Soal Selat Hormuz

Baqaei menjelaskan bahwa komunikasi antara Iran dan Oman memang terus berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Namun, pembahasan tersebut hanya berkaitan dengan upaya menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Menurutnya, kesepakatan dengan Oman saja tidak cukup untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Pembahasan yang sedang berlangsung hanya menyangkut rancangan satu koridor pelayaran yang mencakup jalur masuk dan keluar kapal.

Sebelumnya, Iran mengungkapkan bahwa kedua negara tengah menyelesaikan pembahasan mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz yang dinilai lebih aman serta mengakomodasi kepentingan bersama Iran dan Oman.

Meski demikian, Baqaei menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz bukan dipicu oleh perselisihan dengan Oman, melainkan akibat serangan Amerika Serikat dan "Israel" terhadap Iran.

Ia menilai kondisi pelayaran di kawasan tersebut tidak akan kembali seperti sebelum perang selama tekanan militer dan blokade laut terhadap Iran masih berlangsung.

Iran Apresiasi Upaya Redam Ketegangan

Menanggapi laporan mengenai dugaan keterlibatan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman dalam upaya menunda serangan Amerika terhadap Iran, Baqaei mengatakan negara-negara kawasan memang berkepentingan untuk mencegah eskalasi konflik karena dampaknya akan dirasakan langsung oleh mereka.

Meski mengapresiasi berbagai inisiatif regional, ia menegaskan bahwa faktor utama yang mencegah berlanjutnya serangan adalah kemampuan pertahanan dan daya tangkal militer Iran.

Sementara itu, terkait isu keterlibatan China sebagai mediator dalam persoalan Selat Hormuz, Baqaei mengatakan Beijing memang memiliki hubungan dekat dengan Iran dan mendukung upaya meredakan ketegangan. Namun, ia membantah bahwa China telah menjadi mediator resmi.

Menurut Baqaei, mediator yang saat ini berperan dalam komunikasi Iran dan Amerika Serikat adalah Pakistan serta Qatar.

Washington dan Teheran Saling Bertolak Belakang

Di sisi lain, koresponden Al Jazeera di Washington melaporkan bahwa pernyataan Trump mengenai dimulainya perundingan dengan Iran masih diselimuti ketidakjelasan.

Hingga kini, Iran tetap membantah adanya komunikasi dengan Amerika Serikat. Negara-negara yang selama ini berperan sebagai mediator juga belum mengonfirmasi adanya perundingan baru, sehingga klaim Trump belum mendapat dukungan dari pihak lain.

Di Washington sendiri, perhatian saat ini tertuju pada dua isu utama, yakni kemungkinan tercapainya kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan peluang dimulainya kembali pembahasan mengenai program nuklir Iran apabila kesepakatan tersebut terwujud.

Sebelumnya, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas blokade serta serangan berulang Amerika Serikat. Teheran juga memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas di luar jalur yang telah ditetapkan di dekat perairannya. Sementara itu, Amerika Serikat tetap menyatakan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz masih terbuka dan mengklaim telah memfasilitasi puluhan kapal melintas dalam beberapa waktu terakhir.

(Samirmusa/arrahmah.id)