YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Menteri Keamanan Nasional 'Israel', Itamar Ben-Gvir, kembali menuai kontroversi setelah terekam melontarkan ancaman kepada seorang warga Palestina saat melakukan kunjungan ke Yerusalem Timur yang diduduki. Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial pada Selasa (22/7/2026), Ben-Gvir terdengar menyatakan dirinya sebagai “pemilik” kawasan tersebut dan mengancam akan mengusir warga Palestina yang memprotes kehadirannya.
Insiden itu memicu kecaman dari kelompok hak asasi manusia dan memperdalam ketegangan yang telah meningkat di Yerusalem dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Quds News Repots (23/7/2026), kunjungan tersebut bertujuan meninjau kesiapan aparat menjelang peringatan Tisha B'Av serta mengevaluasi peningkatan kehadiran polisi di wilayah yang mayoritas dihuni warga Palestina. Namun kunjungan itu berubah menjadi adu mulut setelah seorang warga Palestina memprotes kebijakan keamanan Israel di kawasan tersebut.
Dalam video yang dipublikasikan sejumlah media Palestina, Ben-Gvir terdengar berbicara dengan nada keras kepada warga tersebut.
"Saya pemilik tempat ini, dan saya akan mengusir Anda dari sini!" kata Itamar Ben-Gvir.
Pernyataan itu langsung memicu reaksi luas karena dianggap mencerminkan pandangan eksklusif terhadap wilayah Yerusalem Timur yang oleh masyarakat internasional masih dianggap sebagai wilayah pendudukan 'Israel'.
Media Israel National News yang melaporkan insiden tersebut menyebut Ben-Gvir juga mengatakan bahwa dirinya adalah pihak yang bertanggung jawab atas keamanan kawasan itu dan membela peningkatan kehadiran polisi di Yerusalem Timur.
Menurut laporan tersebut, Ben-Gvir mengklaim kebijakan pemerintah telah berhasil menekan aktivitas yang dianggap mengancam keamanan di wilayah tersebut.
Insiden ini terjadi hanya sehari sebelum Ben-Gvir kembali menjadi sorotan internasional akibat kunjungannya ke kompleks Masjid Al-Aqsa bersama ribuan pemukim dan aktivis Yahudi nasionalis.
Dalam kunjungan itu, ia memuji semakin banyaknya warga Yahudi yang berdoa di kawasan yang dikenal umat Yahudi sebagai Temple Mount dan umat Islam sebagai Haram al-Sharif. Langkah tersebut dikecam Palestina dan Yordania karena dianggap melanggar status quo yang telah berlaku selama puluhan tahun.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menilai tindakan Ben-Gvir merupakan bagian dari kebijakan yang semakin agresif terhadap warga Palestina di Yerusalem Timur.
Dalam pernyataannya, kementerian tersebut memperingatkan bahwa pernyataan dan tindakan pejabat Israel di lokasi-lokasi sensitif berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan.
Ben-Gvir sendiri merupakan salah satu tokoh paling kontroversial dalam pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia dikenal karena berbagai pernyataan keras terhadap warga Palestina dan dukungannya terhadap perluasan permukiman Yahudi di wilayah pendudukan. Selama beberapa tahun terakhir, ia berulang kali memicu kritik internasional karena dianggap mengobarkan ketegangan antara Israel dan Palestina. (hanoum/arrahmah.id)
