TELAVIV (Arrahmah.id) -- Perusahaan pertahanan 'Israel' SpearUAV mengumumkan hampir 1.000 unit drone Viper 300 telah siap dikirim kepada pelanggan di berbagai negara, menandai peningkatan kapasitas produksi senjata loitering munition 'Israel' untuk pasar internasional.
SpearUAV, perusahaan teknologi pertahanan yang berbasis di Tel Aviv, mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelanggan internasional terhadap sistem Viper 300.
Dalam pernyataan melalui LinkedIn, seperti dilansir Anadolu Agency (10/9/2026), SpearUAV menyebut pencapaian itu menunjukkan kepercayaan basis pelanggan internasional terhadap kemampuan sistem yang “siap untuk digunakan” dan dapat dioperasikan oleh pasukan yang bergerak maupun yang berada di kendaraan.
Viper 300 merupakan kategori loitering munition, yakni senjata udara tanpa awak yang dapat berada di area sasaran sebelum digunakan untuk menyerang. Menurut SpearUAV, sistem tersebut mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu memperoleh dan mengidentifikasi sasaran.
Perusahaan memasarkan Viper 300 untuk satuan lapis baja, pasukan darat khusus, serta kelompok taktis, dengan penggunaan yang mencakup pengintaian, pengawasan, patroli perbatasan, keamanan dalam negeri dan serangan terhadap sasaran bernilai tinggi.
Yiftach Kleinman, CEO SpearUAV, menjadi salah satu tokoh penting dalam pengembangan perusahaan yang didirikan pada 2017 tersebut bersama CTO Gadi Kuperman. SpearUAV menyatakan sistem-sistemnya telah digunakan oleh berbagai unsur militer 'Israel' dan sejumlah militer negara lain, meskipun perusahaan tidak mengungkapkan secara terbuka daftar seluruh pengguna Viper 300.
The Jerusalem Post melaporkan SpearUAV melihat pengalaman dari berbagai zona konflik sebagai dasar untuk mengembangkan sistem yang mampu menyediakan informasi intelijen, pengawasan dan pengintaian (intelligence, surveillance and reconnaissance/ISR) secara cepat sekaligus memberikan kemampuan serangan presisi dalam satu platform berukuran relatif kecil.
Media Euronews juga melaporkan bahwa perusahaan belum membuka rincian kontrak terkait pengiriman tersebut. Ketidakjelasan mengenai pengguna akhir membuat besarnya dampak geopolitik dari ekspor Viper 300 belum dapat dipastikan, meskipun perusahaan menyatakan pasar internasionalnya terus berkembang.
Perkembangan tersebut berlangsung ketika industri pertahanan 'Israel' semakin menonjolkan pengalaman medan perang sebagai bagian dari pemasaran teknologi militernya. SpearUAV menyatakan Viper 300 dikembangkan berdasarkan kebutuhan konflik modern dan telah “teruji dalam pertempuran”.
Perkembangan SpearUAV terjadi bersamaan dengan tren yang lebih luas dalam industri pertahanan Israel menuju penggunaan drone dan sistem otonom dalam jumlah besar. Sehari setelah pengumuman SpearUAV, The Jerusalem Post melaporkan fasilitas Elbit-FUSE telah mengembangkan teknologi yang memungkinkan sejumlah kecil personel mengendalikan puluhan hingga ratusan robot dan drone untuk fungsi pertahanan maupun ofensif. (hanoum/arrahmah.id)
