DALLAS (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkirakan perang dengan Iran akan berakhir segera setelah pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections pada 3 November 2026. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Rabu (9/9/2026) ketika ia bertolak menuju Dallas, Texas, untuk menghadiri konvensi Partai Republik.
Trump mengatakan Iran tidak akan mampu mempertahankan perlawanan lebih lama karena tekanan ekonomi Amerika Serikat. Ia juga menuduh Teheran berupaya memengaruhi hasil pemilu AS dengan mempertahankan konflik dan tingginya harga energi menjelang pemungutan suara.
“Saya pikir perang akan berakhir segera setelah pemilu karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama,” kata Trump kepada wartawan, ikutip dari Al Jazeera (10/9).
Menurut Trump, berakhirnya konflik juga akan diikuti penurunan harga minyak. Ia memperkirakan harga energi akan kembali turun setelah pemilu apabila perang benar-benar berakhir. Pernyataan tersebut muncul ketika harga minyak mentah Brent telah menembus US$100 per barel, dipicu oleh meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz dan gangguan terhadap lalu lintas energi global.
Namun, prediksi Trump mengenai berakhirnya perang tersebut belum didukung kepastian mengenai kesepakatan politik maupun gencatan senjata dengan Iran. Trump mengatakan kemungkinan negosiasi tetap terbuka, tetapi pemerintahannya saat ini tidak secara aktif mengupayakan kembali perundingan dengan Teheran.
“Ya, negosiasi mungkin saja terjadi, tetapi itu bukan sesuatu yang sedang kami pertimbangkan,” ujar Trump.
Pernyataan Trump juga berbeda dengan peringatan sejumlah pejabat senior pemerintahannya. Reuters melaporkan bahwa Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio secara pribadi telah memperingatkan Trump bahwa Iran mungkin mampu terus menahan tekanan Amerika Serikat, sehingga konflik berpotensi berlangsung hingga akhir masa jabatan Trump pada Januari 2029.
Perbedaan pandangan itu memperlihatkan ketidakpastian mengenai bagaimana dan kapan konflik akan berakhir. Di satu sisi, Trump menyatakan tekanan ekonomi dan militer akan memaksa Iran mengakhiri perlawanan setelah pemilu. Di sisi lain, sejumlah pejabat pemerintahannya menilai kemampuan Iran untuk bertahan dapat membuat konflik berlangsung jauh lebih lama.
Perang tersebut juga mulai menjadi persoalan politik domestik menjelang pemilu 3 November. Harga minyak dan bahan bakar yang meningkat menambah tekanan terhadap pemerintahan Trump, sementara perang Iran menjadi salah satu isu yang berpotensi memengaruhi pilihan pemilih.
Dari sisi keamanan, konflik juga berdampak pada jalur pelayaran internasional. Ketegangan di Selat Hormuz—salah satu jalur energi paling penting dunia—telah menekan arus minyak dan meningkatkan biaya pengiriman. (hanoum/arrahmah.id)
