Memuat...

Houtsi Kuasai Pulau Strategis Zuqar, Saudi Terancam

Hanoum
Jumat, 11 September 2026 / 30 Rabiulawal 1448 04:01
Houtsi Kuasai Pulau Strategis Zuqar, Saudi Terancam
Pulau Zuqar nampak dari atas. [Foto: Noonpost]

SANAA (Arrahmah.id) -- Milisi Syiah Houtsi di Yaman dilaporkan telah menguasai Pulau Zuqar, bagian dari Kepulauan Hanish di Laut Merah, dalam ofensif terbaru yang membawa mereka semakin dekat ke Selat Bab al-Mandeb. Pergerakan ini membuat Arab Saudi semakin tertekan karena Bab al-Mandeb merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute utama perdagangan serta energi dunia.

Dilansir Euro News (10/9/2026). penguasaan Zuqar disebut terjadi pada Kamis, 10 September 2026, setelah milisi Houtsi melancarkan serangan terhadap posisi pasukan yang loyal kepada pemerintah Yaman.

Sumber militer Yaman yang dikutip EFE menyebut serangan terhadap pulau tersebut diawali tembakan rudal balistik dari daratan, kemudian dilanjutkan dengan pengerahan pasukan melalui laut. Zuqar merupakan pulau terbesar di Kepulauan Hanish dan memiliki posisi strategis karena terletak dekat dengan Bab al-Mandeb.

Pada hari yang sama, menurut Reuters, Houtsi juga merebut kota pelabuhan Mocha (Al-Mukha) di pesisir Laut Merah. Sementara sejumlah sumber militer pemerintah Yaman menyebut perkembangan tersebut meningkatkan posisi milisi itu terhadap Bab al-Mandeb. Mocha sendiri berjarak sekitar 80 kilometer dari selat tersebut.

Bab al-Mandeb menjadi sangat penting karena merupakan pintu masuk selatan Laut Merah menuju Teluk Aden dan jalur menuju Terusan Suez. Reuters memperkirakan sekitar 7 persen produksi minyak dunia melewati selat tersebut, sementara jalurnya juga menjadi bagian penting perdagangan Asia-Eropa.

Perkembangan tersebut menjadi persoalan serius bagi Arab Saudi karena kerajaan itu mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan menggunakan kawasan Laut Merah sebagai jalur alternatif ekspor energi, terutama melalui pelabuhan Yanbu.

Reuters melaporkan Houtsi telah menyatakan bahwa kapal-kapal Saudi menjadi pengecualian dari jaminan keamanan yang mereka berikan kepada pelayaran internasional. Pada saat yang sama, aktivitas di pelabuhan Yanbu kembali meningkat setelah sebelumnya terdampak eskalasi serangan Houtsi.

Saudi sebelumnya mengecam keras serangkaian serangan Houtsi terhadap wilayahnya. Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan serangan pada Abha, Khamis Mushait, Jizan dan Najran pada 8 September melukai 73 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, sekaligus menuduh Houtsi mengancam kebebasan pelayaran internasional.

Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi memperingatkan bahwa kawasan Bab al-Mandeb tidak boleh dijadikan instrumen tekanan geopolitik.

“Kami memperingatkan terhadap upaya mengubah Bab al-Mandeb menjadi ‘Hormuz lainnya’,” kata Al-Alimi dalam pertemuan dengan pejabat Uni Eropa dan Belanda pada Kamis. Ia menilai penguasaan jalur strategis tersebut berpotensi menjadikan Yaman sebagai sarana tekanan geopolitik yang melayani kepentingan Iran.

Houtsi sendiri mengatakan operasi militernya memiliki sasaran tertentu dan mengklaim keselamatan pelayaran internasional tetap terjamin, kecuali bagi kapal-kapal Saudi yang berada di bawah blokade laut yang mereka nyatakan.

Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa ofensif milisi tersebut tidak hanya menyasar jalur laut, tetapi juga memperluas kendali teritorial di sepanjang pesisir barat Yaman dan pulau-pulau strategis di Laut Merah. (hanoum/arrahmah.id)