VENESIA (Arrahmah.id) -- Film dokumenter NAZA mengungkap kesaksian anonim 24 personel militer dan intelijen 'Israel' mengenai operasi militer di Gaza, termasuk penggunaan sistem kecerdasan buatan (AI), pengawasan digital, serta keputusan serangan yang menurut para narasumber dapat memperhitungkan jatuhnya korban sipil.
Dilansir The Guardian (10/9/2026), film karya sutradara 'Israel' Yuval Abraham dan Rachel Szor itu ditayangkan perdana dalam kompetisi Festival Film Internasional Venesia pada 10 September 2026 dan langsung menarik perhatian karena menghadirkan perspektif orang-orang yang mengaku pernah terlibat langsung dalam operasi tersebut.
NAZA merupakan satu-satunya film dokumenter yang masuk kompetisi utama Festival Film Venesia tahun ini. Film berdurasi 80 menit tersebut diproduksi oleh The Guardian dan James Wilson, dengan Jonathan Glazer sebagai produser eksekutif. Abraham dan Szor sebelumnya merupakan dua dari empat sutradara film dokumenter No Other Land yang meraih Oscar.
Judul NAZA merujuk pada istilah militer 'Israel' yang, menurut film dan laporan investigasi yang menjadi dasarnya, digunakan untuk memperkirakan jumlah korban sipil yang kemungkinan akan jatuh dalam sebuah serangan udara. Dokumenter tersebut dibangun dari kesaksian personel intelijen dan militer yang diwawancarai secara anonim, sehingga identitas mereka tidak dipublikasikan untuk melindungi keselamatan dan privasi mereka.
Reuters melaporkan bahwa film tersebut memuat kesaksian mengenai penggunaan data dari telepon seluler yang diretas serta sistem otomatis dalam proses penentuan sasaran. Menurut kesaksian yang ditampilkan, rumah atau apartemen dapat menjadi sasaran meskipun diketahui terdapat anggota keluarga di dalamnya.
Salah satu kesaksian dalam film menggambarkan situasi tersebut sebagai “pembunuhan massal dalam skala industri.” Pernyataan itu berasal dari seorang personel militer yang identitasnya dirahasiakan. Reuters menekankan bahwa kesaksian tersebut merupakan bagian dari film dan merupakan tuduhan dari sumber anonim, sementara pemerintah Israel mempertahankan bahwa militernya berupaya meminimalkan korban sipil dalam operasi di Gaza.
Sutradara Yuval Abraham mengatakan proses pembuatan film berfokus pada meminta para mantan personel tersebut menjelaskan secara rinci apa yang mereka lakukan dan bagaimana sistem itu bekerja.
“Kami hanya mengatakan kepada para perwira dan tentara itu: tolong jelaskan kepada kami apa yang kalian lakukan,” ujar Abraham dalam konferensi pers di Venesia.
Sementara itu, Rachel Szor mengatakan tim pembuat film tetap melihat pentingnya membawa kesaksian yang sebelumnya telah muncul dalam laporan jurnalistik ke medium film.
“Kami merasa masih ada semacam pentingnya untuk mengambil kesaksian-kesaksian itu dan memasukkannya ke dalam sebuah film,” kata Szor. NAZA memang dibangun berdasarkan investigasi yang sebelumnya diterbitkan The Guardian, +972 Magazine, dan media berbahasa Ibrani Local Call sepanjang 2023 hingga 2025. (hanoum/arrahmah.id)
