GROZNY (Arrahmah.id) -- Pemimpin Chechnya Ramzan Kadyrov meminta aparat keamanan meningkatkan pemantauan terhadap warga menjelang pemilihan 18–20 September 2026, termasuk melakukan kunjungan dari rumah ke rumah. Dalam pertemuan dengan jajaran keamanan pada 9 September, Kadyrov juga menyoroti pria dengan janggut panjang dan wanita yang mengenakan cadar, yang menurutnya perlu mendapat perhatian aparat di tengah upaya pemerintah mengawasi kondisi keamanan menjelang pemungutan suara.
Dilansir OC Media (10/9/2026), Kadyrov menyampaikan instruksi tersebut ketika Chechnya bersiap mengikuti pemilihan berjenjang yang berlangsung bersamaan dengan pemilu Rusia pada 18–20 September.
Pemerintah daerah mengatakan persiapan pemungutan suara mencakup kesiapan tempat pemungutan suara dan langkah-langkah keamanan. Secara terpisah, petugas juga telah melakukan kunjungan ke rumah-rumah warga untuk memberikan informasi mengenai jadwal dan tata cara pemungutan suara.
Dalam pertemuan dengan pimpinan aparat keamanan itu, Kadyrov mengaitkan pengawasan terhadap kelompok tertentu dengan kekhawatiran mengenai perubahan perilaku keagamaan di kalangan anak muda. Ia menyoroti laki-laki yang memelihara janggut sangat panjang dan mengenakan celana di atas mata kaki. Kadyrov menilai gaya tersebut telah berubah menjadi tren yang kemudian ditiru generasi muda.
“Mereka menjadikan janggut panjang dan celana yang digulung sebagai mode yang tidak jelas, dan generasi muda mulai menirunya. Saya meminta mereka memendekkan janggut dan mengenakannya sesuai dengan agama,” kata Kadyrov dalam pertemuan tersebut.
Kadyrov juga menyoroti wanita yang menurutnya mulai mengenakan pakaian yang menutupi tubuh dan wajah secara penuh. Ia meminta agar perempuan di Chechnya berpakaian menurut apa yang disebutnya sebagai norma Islam setempat, bukan meniru gaya berpakaian Arab.
“Mereka juga perlu diimbau berpakaian sesuai Islam, tanpa meniru gaya Arab. Paranja tidak pernah dipakai di sini,” ujar Kadyrov.
Pernyataan mengenai pakaian tersebut bukan pertama kali disampaikan Kadyrov. Pada 2024, ia juga pernah menentang penggunaan paranja yang menutupi wajah di Chechnya, sementara pada saat yang sama secara terbuka membela penggunaan hijab. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kebijakan mengenai pakaian wanita di Chechnya memiliki nuansa tersendiri dan tidak identik dengan larangan seluruh bentuk penutup kepala atau pakaian Muslim. (hanoum/arrahmah.id)
