TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Menteri Keamanan Nasional 'Israel' Itamar Ben-Gvir secara terbuka menyerukan agar 'Israel' melakukan pembunuhan terhadap 30 hingga 40 orang di Gaza setiap malam. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah podcast bersama mantan sandera 'Israel', Rom Braslavski, ketika Ben-Gvir mengkritik pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilainya mengurangi intensitas serangan militer di Gaza.
Pernyataan tersebut muncul pada Ahad (16/8/2026) dan segera mendapat perhatian luas setelah rekamannya beredar di media Palestina. Dalam percakapan itu, Ben-Gvir mengatakan bahwa operasi militer 'Israel' seharusnya kembali ditingkatkan dan mengusulkan pembunuhan terarah secara rutin di Jalur Gaza.
“Saya pikir kita harus melakukan pembunuhan terarah setiap malam di Gaza, 30 sampai 40 orang,” kata Itamar Ben-Gvir, sebagaimana dikutip Associated Press (16/8).
Ben-Gvir menyampaikan pandangan itu ketika berbicara dengan Rom Braslavski, warga 'Israel' yang sebelumnya menjadi sandera Hamas dan kemudian dibebaskan. Braslavski diketahui mengalami penahanan selama sekitar dua tahun setelah diculik dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Percakapan tersebut berlangsung dalam konteks pembahasan mengenai kondisi para sandera dan respons Israel terhadap serangan Hamas.
Pernyataan Ben-Gvir juga mencerminkan perselisihan politik di dalam pemerintahan 'Israel' mengenai arah perang Gaza. Menteri dari kubu sayap kanan tersebut mengkritik langkah Netanyahu yang dinilainya terlalu lunak dan menilai operasi militer 'Israel' harus kembali menggunakan kekuatan yang lebih besar. Di sisi lain, upaya diplomatik yang didukung Amerika Serikat untuk mempertahankan gencatan senjata dan mendorong kesepakatan politik Gaza masih berlangsung.
Ben-Gvir merupakan salah satu anggota paling kanan dalam koalisi pemerintahan Netanyahu dan dikenal karena sikap kerasnya terhadap Palestina. Ia juga memiliki kewenangan atas kepolisian 'Israel' dan sistem penjara, meskipun tidak memiliki kewenangan langsung untuk memerintahkan operasi militer 'Israel' di Gaza. AP mencatat bahwa posisi politiknya tetap membuat pernyataan tersebut signifikan karena ia merupakan bagian dari kabinet Netanyahu.
Dalam wawancara itu, Ben-Gvir juga menggunakan bahasa yang merendahkan warga Palestina dan kembali menyuarakan gagasan agar warga Palestina meninggalkan Gaza serta agar 'Israel' membangun kembali permukiman di wilayah tersebut. Financial Times melaporkan bahwa ia mendukung pendirian permukiman Yahudi di Gaza dan gagasan pengusiran massal warga Palestina. (hanoum/arrahmah.id)
