Memuat...

Dampak Perang Iran, Pakistan Naikan BBM, Liburkan Sekolah dan Pegawai, dan Pangkas Gaji Pejabat

Hanoum
Rabu, 11 Maret 2026 / 22 Ramadan 1447 06:59
Dampak Perang Iran, Pakistan Naikan BBM, Liburkan Sekolah dan Pegawai, dan Pangkas Gaji Pejabat
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. [Foto: Grand Pinnacle Tribune]

ISLAMABAD (Arrahmah.id) -- Pakistan mulai merasakan dampak serius dari perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan 'Israel'. Lonjakan harga minyak global memaksa pemerintah Islamabad menutup sekolah, menerapkan kerja dari rumah bagi sebagian pegawai, serta memangkas pengeluaran negara—bahkan sejumlah pejabat dilaporkan tidak menerima gaji sebagai bagian dari langkah penghematan.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan, seperti dilansir Reuters (9/3/2026), paket kebijakan darurat untuk menghemat energi setelah harga minyak melonjak tajam akibat konflik di Timur Tengah. Pemerintah memutuskan menutup sekolah selama dua pekan, sementara universitas beralih ke pembelajaran daring untuk mengurangi mobilitas dan konsumsi bahan bakar.

Selain itu, pemerintah juga memberlakukan empat hari kerja dalam sepekan dan meminta sekitar 50 persen pegawai sektor publik maupun swasta bekerja dari rumah, kecuali layanan penting. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari langkah penghematan energi di tengah krisis pasokan bahan bakar.

Krisis energi juga berdampak langsung pada harga bahan bakar di Pakistan. Pemerintah menaikkan harga bensin sekitar 55 rupee per liter, salah satu kenaikan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sehingga menambah tekanan inflasi di negara yang sangat bergantung pada impor energi tersebut.

Sebagai bagian dari langkah penghematan, pemerintah Pakistan juga memangkas pengeluaran negara secara besar-besaran. Sejumlah fasilitas pejabat dikurangi, perjalanan dinas dibatasi, dan sebagian pejabat bahkan diminta menunda atau tidak menerima gaji sementara waktu guna mengurangi beban fiskal negara.

Krisis tersebut dipicu oleh gangguan pasokan energi global akibat konflik Iran. Ketegangan di kawasan, termasuk ancaman terhadap jalur pengiriman minyak strategis seperti Selat Hormuz, telah mendorong harga minyak dunia melonjak di atas 100 dolar per barel dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Para analis menilai Pakistan termasuk negara yang paling rentan terhadap gejolak harga energi karena ketergantungannya pada impor minyak dan gas. Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, tekanan terhadap ekonomi Pakistan—yang sebelumnya juga pernah mengalami krisis keuangan dan inflasi tinggi—diperkirakan akan semakin berat. (hanoum/arrahmah.id)