TEPI BARAT (Arrahmah.id) -- Sebuah keluarga Palestina di Desa Umm al-Kheir, wilayah Masafer Yatta, Tepi Barat yang diduduki, mengaku tidak dapat mengakses toilet milik mereka sendiri selama lebih dari tiga pekan setelah militer 'Israel' menetapkan area di sekitar rumah mereka sebagai zona militer tertutup. Peristiwa tersebut kembali menyoroti ketegangan yang terus meningkat antara warga Palestina, pemukim 'Israel', dan pasukan militer di wilayah pendudukan.
Dilansir Asharq Al Awsat (21/7/2026), keluarga yang dipimpin oleh Ikhlas al-Hathalin (42) itu tinggal bersama 13 anggota keluarga lainnya di desa yang terletak dekat permukiman 'Israel' Carmel. Menurut keterangan keluarga, toilet luar rumah mereka berada di antara rumah tinggal dan sebuah karavan yang ditempatkan pemukim 'Israel' sekitar 100 meter dari lokasi tersebut pada tahun lalu. Sejak itu, mereka mengaku sering mengalami gangguan dari para pemukim yang datang ke area toilet dan meminta keluarga tersebut meninggalkan tempat itu.
Situasi memanas pada awal Juli 2026 ketika sejumlah pemukim memasang ayunan di antara rumah keluarga al-Hathalin dan toilet tersebut. Perselisihan yang terjadi kemudian memicu intervensi militer 'Israel'. Tentara 'Israel' lalu menetapkan kawasan itu sebagai zona militer tertutup sementara dengan alasan untuk memisahkan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Akibat keputusan tersebut, keluarga al-Hathalin mengaku tidak lagi dapat menggunakan fasilitas sanitasi milik mereka sendiri. Mereka terpaksa berjalan ke pusat komunitas atau rumah tetangga untuk menggunakan toilet. Selain itu, pembatasan tersebut disebut juga menghambat akses mereka ke kandang domba yang menjadi sumber mata pencaharian keluarga.
Dalam keterangannya kepada AFP , Ikhlas al-Hathalin menggambarkan kesulitan yang dialami keluarganya selama pembatasan berlangsung. "Kami sekarang harus menggunakan toilet di pusat komunitas atau rumah tetangga. Rasa malu dan kesulitan untuk sekadar pergi ke toilet jauh lebih berat daripada yang bisa dibayangkan," kata Ikhlas al-Hathalin.
Pihak militer 'Israel' membenarkan adanya penetapan zona militer tertutup di lokasi tersebut. Dalam pernyataannya kepada AFP, militer menyebut langkah itu dilakukan untuk meredakan ketegangan di area yang kerap menjadi lokasi perselisihan antara warga Palestina dan pemukim 'Israel'. "Untuk membubarkan dan memisahkan seluruh pihak yang terlibat, perintah zona militer tertutup sementara telah diberlakukan," demikian pernyataan militer 'Israel'.
Sementara itu, anggota dewan desa Umm al-Khair, Ahmed al-Hathalin, menilai masalah tersebut tidak terlepas dari meningkatnya pengaruh kelompok pemukim di wilayah Tepi Barat. "Kami berusaha menekan otoritas pendudukan, tetapi persoalan ini berada di tangan para pemukim, dan pemerintah pendudukan saat ini pada dasarnya adalah pemerintah para pemukim," ujarnya.
Menurut berbagai laporan internasional, wilayah Masafer Yatta dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik konflik paling sensitif di Tepi Barat. Organisasi hak asasi manusia dan media internasional berulang kali melaporkan meningkatnya ketegangan antara warga Palestina dan pemukim 'Israel' di kawasan tersebut. Di belakang rumah keluarga al-Hathalin sendiri, sejumlah rumah mobil baru dilaporkan telah didirikan sebagai bagian dari perluasan pos permukiman 'Israel'.
Kasus ini menjadi perhatian karena dianggap mencerminkan dampak langsung kebijakan keamanan dan ekspansi permukiman terhadap kehidupan sehari-hari warga Palestina. Hingga kini militer 'Israel' menyatakan penutupan tersebut bersifat sementara, namun belum memberikan tanggal pasti kapan akses keluarga itu ke toilet dan lahan mereka akan dipulihkan. (hanoum/arrahmah.id)
