Memuat...

Dolar Naik, Rakyat Menjerit: Saatnya Menengok Politik Ekonomi Islam

Oleh KhatimahPegiat Dakwah
Ahad, 7 Juni 2026 / 22 Zulhijah 1447 17:59
Dolar Naik, Rakyat Menjerit: Saatnya Menengok Politik Ekonomi Islam
Ilustrasis. (Foto: emtrade.id)

Nilai dolar terus naik, harga-harga ikut melambung. Yang paling berat menanggungnya bukan mereka yang berlimpah, melainkan masyarakat kecil yang setiap hari berjuang agar dapur tetap mengepul.

Hal tersebut juga berdampak langsung pada produsen tempe, di Komplek Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti) Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Di tengah gejolak ekonomi yang melemah dan bahan baku berupa kedelai kian meroket harganya, para perajin menyiasati dengan memperkecil ukuran produksi tempe mereka, agar tetap dijadikan menu makanan oleh konsumen. Menurut Faris yang merupakan salah satu pembuat tempe biasanya ukuran 35x12 sentimeter kini menjadi 30x10 sentimeter. (Kompas.com, 22/5/2026)

Melemahnya rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga dirasakan langsung oleh mayarakat kecil. Bahan baku tempe berupa kedelai mengalami kenaikan yang terus-menerus disebabkan diperoleh dari impor, sehingga membuat biaya produksi semakin tinggi. Akibatnya, harga produk cenderung naik, ukurannya pun berkurang, dan beban ekonomi pada akhirnya ikut ditanggung oleh konsumen, terutama masyarakat berpenghasilan minim yang menjadikan tahu dan tempe sebagai kebutuhan pokok sehari-hari, bahkan banyak para pengrajin kesulitan mempertahankan usahanya.

Bukan hanya pada bahan baku nya saja yang mengalami kenaikan, harga plastik kemasan yang dijadikan pembungkus belum lama yang lalu mengalami kenaikan yang sangat tinggi, banyak yang menyebutkan bukan lagi naik namun ganti harga.

Meski tempe merupakan makanan khas Indonesia, namun ketergantungan Indonesia pada impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan produksi menunjukkan masih lemahnya kemandirian pangan nasional. Dengan nilai impor yang mencapai triliunan rupiah di setiap tahunnya.

Ini jelas membuktikan lemahnya sistem yang ada. Aturan ekonomi kapitalisme yang bergantung pada pasar global menjadikan pasar global tersebut sebagai fondasi utama. Ketika kebutuhan pokok bergantung pada impor, fluktuasi nilai tukar dan harga internasional dapat dengan mudah menekan pelaku usaha kecil dan masyarakat berpenghasilan minim. Akibatnya, menjadi kelompok yang paling rentan sehingga sering menjadi pihak yang menanggung beban terbesar dari gejolak ekonomi yang terjadi.

Dalam hal ini negara harus hadir, agar masyarakat tidak mengalami krisis ekonomi yang berkelanjutan. Sudah terlalu lama keterpurukan mendera penduduk negeri ini, diakibatkan problem kesejahteraan yang tidak kunjung usai. Rakyat dibuat pontang-panting baik tenaga maupun secara pemikiran, demi untuk memenuhi kebutuhan pokok yang seharusnya kewajiban negara untuk mengurangi beban tersebut, dengan mengontrol harga untuk tetap stabil.

Pada dasarnya karakter masyarakat Indonesia dalam mencari nafkah dikenal ulet, gigih, dan sangat adaptif. Mereka menjunjung tinggi nilai kebersamaan (gotong royong) dan tanggung jawab terhadap keluarga, yang sering kali dibuktikan dengan merantau, kerja keras sektor informal, serta tingginya partisipasi perempuan dalam membantu ekonomi keluarga.

Dengan modal tersebut sudah seharusnya negara memperhatikan, jangan lagi perhatian itu datang hanya 5 tahun sekali ketika suara rakyat dibutuhkan. Namun inilah sistem demokrasi kapitalisme, akan dibutuhkan ketika ada manfaat didalamnya setelah itu maka akan dilupakan. Masyarakat akan dibiarkan melakukan upaya nya sendiri, mulai dari pendidikan, kesehatan, keamanan bahkan dalam hal mencari nafkah. Dalam hal tersebut bukan berarti rakyat bergantung sepenuhnya pada negara, namun yang diharapkan penguasa hadir untuk memperhatikan apa yang menjadi keresahan dari rakyat.

Sungguh sangat jauh berbeda dengan sistem yang menerapkan hukum Allah, bahkan seorang pemimpin (khalifah) Umar bin Abdul Aziz pada masa tersebut merasa khawatir jika rakyatnya mengalami kesulitan bahkan kelaparan. Bagi beliau tidak ada waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya sebelum memastikan semua rakyat nya sejahtera.

Pada masa ke khilafahan (negara yang berbasiskan sistem Islam) agar nilai mata uang tetap stabil dan tidak mudah dipermainkan spekulan, penguasa menetapkan mata uang berupa dinar (emas) dirham (perak). Bahkan nilai tukar uang tersebut sudah terjadi semenjak sebelum masa kenabian, dan berakhir ketika sistem Islam tidak lagi diterapkan dalam mengelola negara.

Tidak berhenti pada nilai tukar dinar dirham. Negara Islam (khilafah) akan senantiasa berupaya mengedukasi untuk menghidupkan tanah mati (ihya' al-mawat) yang tak bertuan. Praktik ini dianjurkan karena bernilai pahala. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

"Barangsiapa menghidupkan tanah mati, maka ia mendapatkan pahala. Dan apa saja yang dimakan oleh binatang pencari makan dari tanah itu, maka itu menjadi sedekah baginya." (HR. Nasa'i dan Ahmad).

Sehingga tanah atau lahan yang dimanfaatkan bisa untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan  rakyat, termasuk menanam kedelai tidak bergantung pada impor.

Politik ekonomi Islam disandarkan pada akidah yang shahih (keyakinan kepada Allah), bahwa setiap pengurusan dan kebijakan akan senantiasa dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah Swt. Sehingga akan berlandaskan pada prinsip keadilan, keseimbangan dan kesejahteraan bagi setiap individu rakyat.

Negara akan selalu hadir untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok. Jika mekanisme pasar gagal, negara wajib melakukan intervensi langsung.

Negara akan melarang praktek monopoli dan eksploitasi, tidak diperbolehkan menimbun barang (ihtikar) dan pinjaman berbunga (riba), yang sering kali menjerat perajin kecil dalam utang berbunga tinggi. Namun sebaliknya negara atau lembaga keuangan syariah didorong untuk memberikan akses permodalan yang mudah dan murah, seperti melalui skema qardhul hasan (pinjaman tanpa bunga) atau mudharabah (bagi hasil), bahkan meminjamkan secara cuma-cuma berlandaskan tolong-menolong (ta'awwun).

Inilah sistem Islam yang pernah menjadi mercusuar dunia, rakyatnya terjamin dalam segala aspek kehidupan, sehingga tenanglah menjalankan spritualnya terhadap Rabb Semesta alam. Tidakkah kaum muslim ini rindu dengan sistem tersebut yang Allah Swt. menjanjikan akan melimpahkan keberkahan kepada mereka, yang datang dari langit maupun dari bumi.

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf: 96).

Wallahua'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya