GAZA (Arrahmah.id) - Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza memperingatkan pada Senin (3/8/2026) bahwa para pasien di seluruh wilayah kantong yang diblokade tersebut terus kehilangan akses terhadap obat-obatan penyelamat nyawa. Krisis ini digambarkan sebagai bentuk genosida senyap yang merenggut nyawa para pasien setiap harinya.
Menurut kementerian, obat-obatan untuk pasien kanker dan kelainan darah menjadi sektor yang paling terdampak parah dengan tingkat kekosongan mencapai 61%. Kondisi ini membuat para pasien kanker menghadapi risiko kematian yang sangat nyata akibat penangguhan protokol pengobatan secara massal.
Secara keseluruhan, defisit pasokan obat-obatan di sistem layanan kesehatan Gaza kini telah menyentuh angka 47%, sementara kekurangan pasokan medis lainnya mencapai 58%.
Krisis kemanusiaan di Gaza turut merembet secara drastis ke sektor laboratorium yang mengalami kekurangan bahan uji hingga 85%, sehingga mengancam kelangsungan berbagai tes diagnostik esensial. Situasi ini kian diperparah oleh luasnya defisit pasokan medis di berbagai lini, yang meliputi kelangkaan obat kesehatan ibu dan anak sebesar 56%, kekurangan obat pelayanan kesehatan primer sebesar 55%, serta defisit obat ginjal dan dialisis sebesar 46%. Selain itu, keterbatasan logistik juga mencakup kekurangan pasokan ortopedi sebesar 47% dan bedah 39%, defisit obat kesehatan mental serta neurologis sebesar 35%, hingga kekurangan obat darurat serta perawatan intensif yang menyentuh angka 33%.
Para pejabat kesehatan menyatakan bahwa kumpulandefisit ini melumpuhkan kemampuan dokter dalam merawat pasien, terutama di ruang perawatan intensif (ICU) dan kamar operasi. Berbagai pemeriksaan mendasar seperti tes darah lengkap, analisis gas darah, dan kimia klinik kini berada pada ambang kritis.
Kementerian Kesehatan memperbaharui seruannya kepada organisasi internasional, lembaga-lembaga PBB, dan badan kemanusiaan untuk segera turun tangan memfasilitasi masuknya obat-obatan, suplai medis, dan bahan laboratorium sebelum bencana kemanusiaan ini kian memburuk.
Peringatan ini menyusul eskalasi sebelumnya tatkala militer 'Israel' menghantam gudang penyimpanan obat dan merusak fasilitas medis di sekitar Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsha di Deir al-Balah. Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, Munir al-Bursh, mengecam serangan terhadap gudang logistik tersebut sebagai serangan langsung terhadap sisa-sisa infrastruktur kesehatan yang tersisa di Gaza.
Sejak Oktober 2023, sektor kesehatan Gaza terus menghadapi hantaman beruntun serta pembatasan ketat atas masuknya pasokan medis dan bahan bakar. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, krisis pasokan justru kian memburuk dan menempatkan para pasien kronis serta penderita kanker pada posisi yang paling rentan. (zarahamala/arrahmah.id)
