WASHINGTON (Arrahmah.id) - Di era kecanggihan teknologi, peperangan tidak lagi terbatas pada perebutan pengaruh politik atau adu kecanggihan militer di medan fisik. Perang modern kini telah merambah pada pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk menguasai ruang digital, di mana konten visual dan gambar buatan digunakan demi memenangkan narasi serta melegitimasi klaim di dunia maya.
Fenomena yang dalam kajian akademik mulai dikenal sebagai Slopaganda ini berkembang pesat menyusul meletusnya konflik militer antara Amerika Serikat (yang didukung 'Israel') dengan Iran pada Februari lalu. Akun resmi Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social kini dilaporkan berubah menjadi etalase penyebaran gambar-gambar hasil regenerasi AI yang mensimulasikan adegan kemenangan semu serta operasi pengeboman fiktif terhadap target-target di dalam Iran.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump secara intensif mengunggah rangkaian konten visual AI terkait perang tersebut. Konten yang disebarkan bervariasi mulai dari visualisasi serangan udara militer AS, peta wilayah Iran yang ditutupi oleh bendera Amerika, hingga modifikasi simbolis Selat Hormuz yang secara satire diubah namanya oleh Trump menjadi Selat Trump.
Manipulasi Fakta Lapangan Lewat Tombol AI
Meskipun bagi sebagian kalangan pola ini dianggap sebagai kelanjutan dari gaya komunikasi Trump yang gemar menyindir dan memprovokasi, para analis menilai tindakan tersebut merupakan strategi propaganda sistematis. Konten visual digital sengaja dipersenjatai (weaponized) sebagai alat perang psikologis guna menopang narasi perang Washington, yang dalam beberapa kesempatan terbukti bertolak belakang dengan fakta riil di lapangan.
Rangkaian kronologi unggahan visual berbasis kecerdasan buatan (AI) oleh Donald Trump menunjukkan eskalasi propaganda digital yang intensif dalam beberapa bulan terakhir.
Kebijakan redesain geopolitik secara virtual ini dimulai sejak April 2026, ketika Trump memicu kontroversi luas setelah mengunggah gambar klaim yang mengubah nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" sebagai upaya visual untuk mengesankan bahwa kawasan strategis tersebut berada di bawah kendali mutlak Amerika Serikat.
Provokasi visual ini terus berlanjut hingga memasuki akhir Mei melalui klaim aneksasi peta pada Sabtu (23/5/2026). Saat itu, Trump menyebarkan gambar peta Iran yang seluruh permukaannya ditutupi oleh bendera Stars and Stripes AS disertai tulisan, "AS di Timur Tengah?".
Langkah tersebut langsung dibaca oleh berbagai media internasional sebagai sinyal eskalasi militer baru, terutama karena diunggah di tengah upaya mediasi damai yang sedang diupayakan secara intensif oleh Pakistan.
Hanya berselang sehari, tepatnya pada Ahad (24/5/2026), Trump kembali meluncurkan simulasi serangan udara berupa gambar hasil regenerasi AI yang memperlihatkan drone militer AS tengah membom kapal perang Iran, lengkap dengan takarir provokatif berbahasa Spanyol, "Adios" (Selamat Tinggal), yang semakin menegaskan penggunaan konten artifisial sebagai alat perang psikologis.
Melalui distribusi massal gambar-gambar artifisial ini, Trump berupaya mengirimkan pesan psikologis kepada publik domestik Amerika bahwa Washington memiliki surplus kekuatan militer dan memposisikan Iran sebagai pihak yang kalah total.
Gambar ledakan dan kehancuran aset Iran tidak dibuat untuk sekadar menarik perhatian netizen, melainkan berfungsi sebagai instrumen doktrin "Deterrence by Power" (Penangkalan berbasis Kekuatan). AI memberi Trump kemampuan tak terbatas untuk mendesain skenario perang yang ideal dan menguntungkan baginya hanya dengan satu klik, tanpa perlu memedulikan dinamika militer yang sebenarnya di lapangan.
Para pengamat geopolitik mencatat bahwa Trump sengaja memilih waktu-waktu krusial untuk meluncurkan konten Slopaganda ini. Unggahan biasanya memuncak saat mendekati masa berakhirnya gencatan senjata atau ketika peluang kesepakatan damai dalam meja perundingan diplomatik mulai menunjukkan kemajuan.
Taktik ini digunakan Trump untuk mengonsolidasikan basis pendukung setianya di tengah tingginya penolakan publik domestik AS terhadap keputusan perang dengan Iran. Melalui visualisasi AI tersebut, Trump berupaya memasarkan citra dirinya sebagai pemimpin yang kuat, tegas, dan mampu mendikte lawan, sekaligus meyakinkan warga Amerika bahwa konfrontasi ini tetap diperlukan demi keamanan nasional.
Secara garis besar, fenomena ini merefleksikan pergeseran fundamental dalam doktrin perang modern. Pertempuran tidak lagi hanya mengandalkan rudal dan jet tempur, melainkan juga algoritma, kode, dan konten digital. Dalam konteks konflik Iran, teknologi AI meloloskan Trump dari rumitnya realitas militer dan politik demi menegakkan tiga pilar narasi pribadinya, memposisikan Amerika Serikat sebagai pihak yang "pasti menang", menggambarkan Iran sebagai pihak yang tunduk di bawah kendali AS, serta mengukuhkan citra diri Trump sebagai panglima tertinggi yang memegang kendali penuh atas konflik. (zarahamala/arrahmah.id)
