Memuat...

Drone Serat Optik Hizbullah Guncang "Israel", Bongkar Kelemahan Fatal Pertahanan Militer

Samir Musa
Jumat, 5 Juni 2026 / 20 Zulhijah 1447 19:45
Drone Serat Optik Hizbullah Guncang "Israel", Bongkar Kelemahan Fatal Pertahanan Militer
Gambar drone milik Hizbullah dari laporan simulasi yang disiarkan oleh Al Jazeera (Al Jazeera).

BEIRUT (Arrahmah.id) – Serangan beruntun yang dilakukan Hizbullah menggunakan drone canggih berbasis kabel serat optik disebut-sebut telah mengungkap kelemahan tak terduga dalam sistem pertahanan militer "Israel".

Laporan media Amerika Serikat, The New York Times, menyebutkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, drone-drone tersebut digunakan untuk melancarkan serangan presisi terhadap kendaraan lapis baja, tank, hingga sistem pertahanan udara "Israel". Pihak militer "Israel" sendiri mengakui bahwa serangan tersebut kini terjadi hampir setiap hari dan telah menyebabkan korban jiwa di kalangan tentaranya.

Serangan ini tidak hanya berdampak secara militer, tetapi juga mengguncang citra superioritas teknologi "Israel". Ketakutan dan tekanan psikologis dilaporkan meningkat di kalangan pasukan "Israel" yang ditempatkan di wilayah selatan Lebanon.

Tank Merkava milik Israel berlindung dengan jaring, namun jaring tersebut tidak mampu mencegah drone-drone Hizbullah (Al Jazeera).

Peringatan yang Diabaikan

Menurut laporan tersebut, sejumlah perwira militer "Israel" sebenarnya telah memperingatkan sejak tahun 2024 tentang kemungkinan penggunaan drone berbasis serat optik oleh Hizbullah. Teknologi ini sebelumnya telah digunakan secara luas dalam perang Rusia-Ukraina.

Keunggulan drone jenis ini terletak pada sistem kendali yang tidak bergantung pada sinyal radio, melainkan menggunakan kabel serat optik tipis yang terhubung langsung ke operator. Hal ini membuatnya sangat sulit dideteksi atau dijatuhkan dengan sistem gangguan elektronik (jamming) yang selama ini diandalkan "Israel".

Namun, meski telah diperingatkan, militer "Israel" dinilai gagal mengambil langkah antisipatif yang memadai. Bahkan ketika serangan mulai meningkat pada April lalu, beberapa langkah sederhana seperti pemasangan jaring pelindung di atas kendaraan dan pos militer—yang telah digunakan di Ukraina—belum diterapkan secara luas.

Seorang jenderal cadangan "Israel" mengakui bahwa institusi keamanan mengetahui ancaman tersebut, tetapi tidak menanganinya dengan serius.

Gambar dari laporan simulasi tentang drone-drone Hizbullah yang disiarkan oleh Al Jazeera (Al Jazeera).

Intensitas Konflik Meningkat

Sejak tahun 2024, Hizbullah secara bertahap kembali meningkatkan aktivitas militernya terhadap "Israel". Situasi semakin memanas setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat, "Israel", dan Iran pada awal tahun ini.

Sebagai respons, "Israel" melancarkan operasi militer ke wilayah selatan Lebanon, menguasai sejumlah desa perbatasan serta menghancurkan infrastruktur secara luas.

Namun demikian, Hizbullah tetap mampu melanjutkan serangannya terhadap pasukan "Israel", baik di dalam wilayah Lebanon maupun sepanjang perbatasan. Laporan menyebutkan bahwa sejak April, sedikitnya 10 tentara "Israel" dan satu warga sipil tewas akibat serangan tersebut.

Di sisi lain, Hizbullah juga memanfaatkan serangan ini untuk perang informasi. Sepanjang bulan Mei saja, kelompok tersebut merilis lebih dari 30 video yang memperlihatkan keberhasilan drone mereka dalam menghantam target militer "Israel".

Serangan yang dilancarkan Hizbullah menggunakan drone serat optik telah mengungkap celah-celah tak terduga dalam sistem pertahanan militer Israel (Eropa).

Ancaman yang Terus Berkembang

Menghadapi tekanan internal, Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu mengumumkan pembentukan tim khusus untuk mencari solusi cepat terhadap ancaman drone tersebut, dengan anggaran yang disebut tidak terbatas.

Metode utama untuk menghadapi drone ini saat ini adalah dengan menembaknya secara langsung atau memutus kabel serat optiknya. Namun, kecepatan serangan dan jarak yang sangat dekat membuat waktu reaksi pasukan di lapangan sangat terbatas.

"Israel" juga berupaya belajar dari pengalaman Ukraina dalam menghadapi ancaman serupa. Bahkan, delegasi militer Ukraina disebut pernah memberikan pelatihan terkait taktik pertahanan terhadap drone jenis ini.

Para analis memperingatkan bahwa ancaman ke depan bisa semakin kompleks. Hizbullah berpotensi mengadopsi teknologi yang lebih canggih, seperti pengoperasian drone melalui jaringan seluler, yang memungkinkan serangan dari jarak yang jauh dan lebih sulit dilacak.

Perkembangan ini menandai perubahan signifikan dalam medan perang modern, di mana teknologi sederhana namun inovatif dapat menantang dominasi militer yang selama ini dianggap tak tertandingi.

(Samirmusa/arrahmah.id)