RAMALLAH (Arrahmah.id) - Dua warga Palestina, seorang pemuda dan seorang remaja, tewas ditembak tentara 'Israel' pada Rabu malam (2/8/2026) di Desa al-Mughayyir, sebelah timur Ramallah, Tepi Barat yang diduduki. Pada saat yang sama, Kepala Staf Militer 'Israel' Eyal Zamir memerintahkan peningkatan status kesiagaan pasukan di wilayah tersebut.
Pasukan 'Israel' menyerbu Desa al-Mughayyir dan menutup pintu masuk utama desa ketika bentrokan pecah antara warga Palestina dan pasukan 'Israel'. Pada saat yang sama, kelompok pemukim 'Israel' dilaporkan melakukan serangan terhadap warga Palestina.
Al-Mughayyir diketahui kerap menjadi sasaran serangan pemukim 'Israel' yang kemudian mendapat perlindungan dari pasukan 'Israel'.
Sumber-sumber lokal juga melaporkan bahwa sejumlah pemukim 'Israel', di bawah perlindungan tentara dan polisi 'Israel', mencuri kawanan domba milik warga Palestina, Shihada Ka'abneh, di bagian barat desa.
Sekitar 15 kendaraan militer 'Israel' dikerahkan di desa tersebut. Bentrokan kemudian terjadi antara pemuda Palestina dan pasukan 'Israel' yang mencegah mereka mendekati rumah tempat kawanan domba itu berada.
Kepala Staf Militer 'Israel' Eyal Zamir memerintahkan peningkatan status kesiagaan di Tepi Barat. Jerusalem Post mengutip seorang pejabat 'Israel' yang mengatakan bahwa kekerasan pemukim di Tepi Barat menimbulkan kerugian diplomatik bagi 'Israel'.
Sementara itu, situs 'Israel' Walla melaporkan Zamir meminta persiapan satu divisi militer tambahan untuk mengantisipasi kebutuhan memperkuat pasukan di wilayah tersebut.
Langkah itu diambil di tengah peringatan mengenai kemungkinan memburuknya situasi keamanan di Tepi Barat serta kekhawatiran bahwa aksi kekerasan pemukim dapat semakin tidak terkendali.
Militer 'Israel' juga mengumumkan akan menggelar latihan militer pada Kamis di wilayah utara Tepi Barat. Latihan tersebut akan melibatkan pergerakan aktif pasukan 'Israel'.
Militer 'Israel' menyatakan latihan itu tidak berkaitan dengan kekhawatiran adanya insiden keamanan.
Seorang pejabat senior diplomatik 'Israel' mengatakan kepada Jerusalem Post bahwa kekerasan yang dilakukan pemukim di Tepi Barat menyebabkan kerugian diplomatik bagi 'Israel'.
Menurutnya, Kementerian Luar Negeri 'Israel' sedang berupaya membatasi dampak diplomatik akibat aksi kekerasan tersebut.
Kementerian juga berupaya menjelaskan langkah-langkah yang diambil otoritas 'Israel' terhadap pemukim yang terlibat dalam berbagai insiden kekerasan, di tengah kritik internasional.
Pejabat tersebut mengatakan pemerintah 'Israel' diminta menayangkan rekaman penangkapan serta proses hukum terhadap pemukim yang terlibat kekerasan untuk menunjukkan bahwa mereka telah mengambil tindakan. Namun, Menteri Keuangan 'Israel' Bezalel Smotrich disebut menentang keras rekomendasi tersebut.
Sejak 'Israel' melancarkan perang di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, tentara dan pemukim 'Israel' meningkatkan serangan di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Serangan tersebut mencakup pembunuhan, penangkapan, pengusiran, penghancuran rumah, dan perluasan permukiman.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan permukiman 'Israel' di wilayah Palestina yang diduduki merupakan tindakan ilegal dan menghambat kemungkinan terwujudnya solusi dua negara.
Sementara itu, Palestina tetap menuntut Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina, berdasarkan resolusi internasional yang tidak mengakui pendudukan 'Israel' atas wilayah tersebut sejak 1967 maupun aneksasinya pada 1980. (zarahamala/arrahmah.id)
