Memuat...

Veteran 'Israel': Bunuh Dulu, Cari Alasan Kemudian

Hanoum
Kamis, 3 September 2026 / 22 Rabiulawal 1448 04:26
Veteran 'Israel': Bunuh Dulu, Cari Alasan Kemudian
Tentara 'Israel' ditempatkan di perbatasan Erez dengan senjata berat dan kendaraan militer di Erez, Israel pada 29 Februari 2024. [Foto: Mostafa Alkharouf/Anadolu Agency]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Tentara 'Israel' dituding membunuh warga Palestina di Jalur Gaza terlebih dahulu, kemudian mencari alasan untuk membenarkan serangan tersebut. Tuduhan itu disampaikan Nadav Weiman, Direktur Eksekutif kelompok veteran militer 'Israel' Breaking the Silence, dalam wawancara dengan France 24 yang kemudian diberitakan Anadolu (1/9/2026).

Menurut Weiman, seperti dilansir Middle East Monitor (1/9), militer 'Israel' dalam sejumlah kasus diduga berusaha mencari hubungan antara korban dan Hamas atau Jihad Islam Palestina setelah serangan terjadi.

Weiman mengatakan pola tersebut terlihat dalam sejumlah insiden yang menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar, termasuk serangan terhadap Rumah Sakit Nasser di Khan Younis serta kematian 15 petugas medis dan penyelamat di Rafah pada Maret 2025. Ia menilai militer kemudian berupaya membangun narasi bahwa korban yang tewas memiliki hubungan dengan kelompok bersenjata Palestina untuk memberikan pembenaran terhadap tindakan yang telah dilakukan.

“Pertama kami menembak, kami membunuh, lalu kami berpikir dan mencoba mencari alasan mengapa hal itu terjadi,” kata Nadav Weiman dalam wawancara tersebut.

Menurut Weiman, hubungan yang dicari tidak selalu berupa bukti bahwa korban merupakan anggota kelompok bersenjata. Ia menyebut seseorang dapat dikaitkan dengan Hamas hanya karena memiliki kerabat yang berafiliasi dengan kelompok tersebut, pernah berada di dekat bangunan yang menurut militer digunakan Hamas, atau pernah tercatat menerima pembayaran dari organisasi tersebut.

Weiman secara khusus menyoroti serangan terhadap Rumah Sakit Nasser pada 25 Agustus 2025. Serangan Israel ketika itu menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk pasien, tenaga kesehatan, pekerja pertahanan sipil dan jurnalis.

Investigasi yang diterbitkan Le Monde pada Agustus 2026, berdasarkan kesaksian seorang tentara 'Israel' yang diberikan kepada Breaking the Silence dan sejumlah media, juga melaporkan dugaan adanya upaya militer untuk menghubungkan korban serangan dengan Hamas setelah kejadian.

Dalam kesaksian tersebut, seorang tentara 'Israel' yang identitasnya dirahasiakan mengatakan serangan awal di Rumah Sakit Nasser diarahkan terhadap sebuah kamera di tangga luar rumah sakit.

Menurut kesaksiannya, militer kemudian menyatakan enam dari korban sebagai “teroris Hamas”. Tentara itu mengatakan pengalaman tersebut mendorongnya berbicara karena ia menilai korban yang menjadi sasaran adalah jurnalis.

Weiman juga mengkritik mekanisme penyelidikan internal militer 'Israel'. Menurut dia, penyelidikan biasanya berfokus pada prajurit atau perwira berpangkat lebih rendah dan jarang menelusuri siapa yang memberikan perintah, menyetujui aturan keterlibatan atau menentukan tingkat korban sipil yang dianggap dapat diterima sebagai dampak sampingan.

“Hampir tidak ada,” jawab Weiman ketika ditanya seberapa sering penyelidikan tersebut berakhir dengan tuntutan atau tindakan disipliner.

Kelompok Breaking the Silence merupakan organisasi veteran 'Israel' yang mengumpulkan kesaksian mantan dan anggota militer mengenai operasi Israel di wilayah Palestina. Kelompok tersebut telah lama mengkritik aturan keterlibatan militer Israel dan praktik operasi di Gaza serta Tepi Barat. Dalam laporan sebelumnya, organisasi itu juga pernah menerbitkan kesaksian tentara mengenai penggunaan kekuatan dan perlakuan terhadap warga Palestina. (hanoum/arrahmah.id)