TEHERAN (Arrahmah.id) -- Iran melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap sasaran Amerika Serikat serta fasilitas yang menampung pasukan AS di sejumlah negara Teluk dan kawasan sekitarnya pada Rabu (2/9/2026), setelah Washington kembali menggempur target militer Iran. Eskalasi itu terjadi hanya beberapa jam setelah Iran menuduh serangan AS menghantam sebuah rumah tempat pesta pernikahan di Kuhestak, Kabupaten Sirik, Provinsi Hormozgan, dan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk seorang anak.
Dilansir BBC (2/9), Serangan balasan Iran dilaporkan menyasar spangkalan atau aset AS di Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Irak, sementara Kuwait menyatakan sistem pertahanannya menghadapi rudal dan drone Iran. Yordania mengatakan pertahanan udaranya mencegat 10 dari 13 rudal balistik Iran yang memasuki wilayah udaranya; tiga lainnya jatuh di daerah terpencil tanpa menimbulkan korban. Di Irak, Iran mengklaim menyerang fasilitas AS di wilayah Erbil.
Serangan tersebut merupakan respons terhadap operasi militer terbaru AS di Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pasukannya menyerang sejumlah sasaran militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, radar, fasilitas maritim, kemampuan peletakan ranjau dan infrastruktur komunikasi. Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) berupaya menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz dan pasukan AS.
Di tengah eskalasi tersebut, Iran menuduh salah satu serangan AS menghantam rumah yang digunakan untuk pesta pernikahan di Kuhestak. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut serangan itu sebagai tindakan brutal dan menuntut pertanggungjawaban internasional.
“Iran akan merespons kejahatan biadab ini dengan tegas,” kata Baghaei, seraya menyatakan serangan terhadap pesta pernikahan tersebut merupakan bagian dari rangkaian tindakan yang menurut Tehran telah menimbulkan korban sipil.
Media pemerintah Press TV melaporkan sedikitnya lima orang tewas, sementara Gubernur Kabupaten Sirik Reza Shahidiyan mengatakan 63 orang terluka, sekitar 50 di antaranya perempuan dan anak-anak. Para korban luka dibawa ke rumah sakit di Minab dan dilaporkan berada dalam kondisi stabil.
Iran juga merilis gambar dan video melalui Bulan Sabit Merah Iran yang memperlihatkan bangunan rusak, dinding dan jendela yang jebol serta puing-puing di lokasi kejadian.
Sebuah kesaksian yang diterbitkan kantor berita Fars berasal dari seorang anak yang selamat dari ledakan. Anak tersebut mengatakan terdengar suara pesawat tempur sebelum ledakan terjadi. Namun, klaim bahwa pesta pernikahan itu menjadi sasaran langsung masih merupakan versi Iran dan belum sepenuhnya diverifikasi secara independen.
Pihak AS mengatakan target operasi mereka adalah fasilitas militer Iran, bukan warga sipil. Washington menyebut serangan tersebut dilakukan setelah ancaman terhadap pasukan AS dan pelayaran di Selat Hormuz. Perbedaan klaim mengenai sasaran serangan menjadi salah satu titik utama dalam perang informasi yang menyertai eskalasi terbaru antara kedua negara. (hanoum/arrahmah.id)
