GAZA (Arrahmah.id) - Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berjalan sejak Oktober 2025, militer Israel terus melakukan serangkaian pelanggaran harian di Jalur Gaza. Pada Kamis (12/3/2026), tiga warga Palestina dilaporkan terluka, termasuk seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun yang menderita luka serius setelah terkena tembakan pasukan 'Israel' di Beit Lahiya, wilayah yang seharusnya berada di luar kendali militer sementara 'Israel'.
Selain penembakan, serangan artileri dan serangan udara dilaporkan mengguncang beberapa titik mulai dari lingkungan Zaitoun dan Shujaiya di Kota Gaza hingga wilayah Mawasi di Rafah. Pelanggaran ini terjadi di tengah perang besar yang melibatkan Iran, yang secara tidak langsung mengalihkan perhatian dunia dari krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza.
Seorang balita terluka parah di Beit Lahiya, sementara dua orang lainnya mengalami luka tembak di bagian kaki. Pelanggaran ini menambah daftar panjang 651 orang yang gugur sejak gencatan senjata resmi dimulai pada 10 Oktober lalu.
Artileri 'Israel' dilaporkan menggempur wilayah Timur Kota Gaza, sementara helikopter tempur melepaskan tembakan intensif. Serangan udara juga menyasar kamp pengungsian di Kota Gaza yang menampung warga sipil.
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat total korban sejak Oktober 2023 kini mencapai 72.136 orang syahid dan 171.839 orang luka-luka. PBB memperkirakan 90% infrastruktur sipil di Gaza telah hancur total setelah perang selama dua tahun terakhir, dengan biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS.
Di tengah kekerasan, dua tawanan asal Gaza dibebaskan melalui penyeberangan Kerem Shalom dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsha. Hingga kini, masih ada sekitar 9.300 warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel dengan kondisi yang memprihatinkan.
Pelanggaran harian ini menimbulkan keraguan besar atas efektivitas kesepakatan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Fokus Washington yang kini tersedot ke front perang melawan Iran membuat pengawasan terhadap implementasi gencatan senjata di Gaza menjadi sangat lemah, membiarkan warga sipil terus berada di bawah ancaman meski secara resmi dalam masa damai. (zarahamala/arrahmah.id)
