LONDON (Arrahmah.id) -- Dua pria Yahudi menjadi korban penusukan di kawasan Golders Green, London utara, pada Rabu (29/4/2026), dengan kepolisian Inggris menetapkan insiden tersebut sebagai dugaan aksi terorisme di tengah meningkatnya kekhawatiran atas serangan antisemit di negara itu.
Peristiwa terjadi di kawasan yang dikenal memiliki komunitas Yahudi besar. Menurut laporan Reuters (29/4), pelaku—seorang pria berusia 45 tahun—menyerang secara acak menggunakan pisau dan melukai dua korban berusia sekitar 30-an dan 70-an tahun. Keduanya segera dilarikan ke rumah sakit dan dilaporkan dalam kondisi stabil.
Pelaku berhasil diamankan di lokasi setelah dilumpuhkan oleh aparat menggunakan taser. Polisi menyatakan bahwa penyelidikan ditangani oleh unit kontra-terorisme untuk menentukan motif dan kemungkinan keterkaitan dengan jaringan tertentu.
Komisaris Kepolisian Metropolitan, Mark Rowley, menyebut serangan ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat.
“Kami memahami ketakutan yang dirasakan komunitas Yahudi dan akan meningkatkan langkah perlindungan,” ujar Mark Rowley seperti dikutip BBC.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang “sangat mengerikan” serta tidak dapat ditoleransi.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya kasus kekerasan terhadap komunitas Yahudi di Inggris dalam beberapa bulan terakhir, termasuk aksi pembakaran dan vandalisme terhadap fasilitas keagamaan. Aparat keamanan bahkan tengah menyelidiki kemungkinan keterkaitan beberapa insiden dengan jaringan eksternal.
Hingga kini, motif pasti pelaku masih dalam penyelidikan, sementara polisi memperkuat pengamanan di wilayah dengan populasi Yahudi besar guna mencegah serangan lanjutan.
Insiden ini menambah tekanan terhadap pemerintah Inggris untuk meningkatkan langkah penanganan ekstremisme domestik dan menjamin keamanan komunitas minoritas di tengah meningkatnya ancaman kekerasan berbasis kebencian. (hanoum/arrahmah.id)
