GAZA (Arrahmah.id) - Warga Jalur Gaza harus menghadapi ujian ganda pada Ahad (15/3/2026) setelah badai pasir hebat menyapu wilayah tersebut, mengubah langit menjadi oranye pekat dan merusak ribuan tenda pengungsian yang sudah rapuh. Badai ini tidak hanya membawa material debu yang menyesakkan, tetapi juga angin kencang yang menghancurkan sisa-sisa harta benda para pengungsi yang bertahan di bawah blokade.
Gelombang simpati dan amarah netizen menyeruak di media sosial. Banyak yang menegaskan bahwa faktor utama bencana ini tetaplah pendudukan dan penutupan pintu perbatasan, yang membuat fenomena alam biasa berubah menjadi tragedi kemanusiaan luar biasa karena minimnya perlindungan bagi warga sipil.
Banyak pengungsi menggambarkan situasi tersebut seperti hari kiamat karena pekatnya debu dan suara angin yang menghantam bangunan setengah hancur. Netizen bernama Huzaifa menyebut badai ini "merobek hati sebelum merobek tenda-tenda kami."
Ahli meteorologi, Laith Al-Allami, menjelaskan bahwa warna oranye pekat berasal dari massa debu pasir gurun yang terbawa angin kencang dalam skala besar. Pertahanan Sipil Gaza mengimbau warga untuk tetap berada di dalam ruangan dan hanya keluar jika sangat mendesak, terutama bagi penderita penyakit pernapasan yang berisiko tinggi akibat polusi debu.
Badai ini menghantam saat lebih dari 70.000 pengungsi di kamp-kamp UNRWA sedang menghadapi kelangkaan bantuan akibat penutupan perbatasan yang terus berlanjut. Tenda-tenda yang terbuat dari bahan seadanya tidak mampu menahan laju angin, membuat warga yang sudah kehilangan rumah kini kehilangan tempat bernaung sementara mereka.
Badai ini terjadi di tengah eskalasi militer regional yang melibatkan Iran, yang membuat akses bantuan internasional ke Gaza semakin terbatas. Warga Gaza kini tidak hanya berjuang melawan peluru dan artileri, tetapi juga melawan kerasnya alam di tengah ketiadaan infrastruktur yang memadai. (zarahamala/arrahmah.id)
