Memuat...

Gedung di Gaza City Ambruk Saat Warga Tidur, 21 Orang Tewas

Zarah Amala
Kamis, 17 September 2026 / 6 Rabiulakhir 1448 10:07
Gedung di Gaza City Ambruk Saat Warga Tidur, 21 Orang Tewas
Sedikitnya 21 warga Palestina tewas dan lainnya terluka setelah sebuah bangunan tempat tinggal yang sebelumnya rusak akibat perang runtuh di Gaza. (Foto: QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Sedikitnya 21 warga Palestina, termasuk lima anak-anak, tewas setelah sebuah bangunan hunian enam lantai yang sebelumnya rusak akibat serangan 'Israel' runtuh di Gaza City pada Rabu (16/9/2026) dini hari. Puluhan orang lainnya diduga masih terjebak di bawah reruntuhan.

Pertahanan Sipil Palestina mengatakan bangunan Sa’ada di sebelah barat Gaza City sebelumnya mengalami kerusakan akibat penembakan 'Israel'. Bangunan tersebut dihuni sedikitnya 10 keluarga yang mengungsi, dengan total sekitar 100 orang.

Bangunan itu runtuh sekitar pukul 02.00 saat para penghuni sedang tidur. Tim Pertahanan Sipil sejauh ini menemukan 21 jenazah, termasuk lima anak-anak, dan menyelamatkan sekitar 30 orang dalam kondisi hidup.

Rekaman dari lokasi menunjukkan warga berusaha membersihkan puing-puing dengan tangan kosong untuk mencari seorang anak perempuan yang masih terdengar menangis dari bawah reruntuhan.

“Kami masih bisa mendengar suara orang-orang yang hidup di bawah reruntuhan, jadi masih ada harapan,” kata Direktur Pertahanan Sipil Gaza, Rayed al-Dahshan.

Ia mengatakan proses pencarian diperkirakan berlangsung lama karena tim penyelamat kekurangan alat berat untuk mengangkat puing-puing.

“Kami bekerja dengan tangan kosong. Situasinya sangat sulit. Pertahanan Sipil membutuhkan alat berat agar dapat segera merespons,” ujarnya.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Mounir al-Bursh, mengatakan sekitar 100 orang masih dinyatakan hilang. Lebih dari 75 nama telah dilaporkan keluarga, termasuk sekitar 50 anak-anak.

Ribuan Bangunan Terancam Runtuh

Pejabat Pertahanan Sipil memperingatkan sekitar 2.000 bangunan di kawasan berpenduduk Gaza berada dalam kondisi struktural yang berbahaya dan berisiko runtuh. Sekitar 300.000 warga juga masih mencari tempat tinggal yang layak, menurut Jaco Cilliers, perwakilan khusus UNDP untuk Program Bantuan bagi Rakyat Palestina.

Pejabat Pertahanan Sipil Gaza Mahmoud Mheisen mengatakan runtuhnya gedung tersebut merupakan gambaran kecil dari tragedi serupa yang terus terjadi di Gaza.

Menurutnya, keterbatasan alat berat membuat tim penyelamat kesulitan menjangkau korban. Ia mengatakan proses penyelamatan yang biasanya dapat dilakukan dalam sekitar tiga hari untuk menemukan korban selamat dapat berlangsung berhari-hari hingga beberapa pekan di Gaza.

Mheisen juga menuding 'Israel' menghambat masuknya peralatan penyelamatan yang dibutuhkan untuk mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan.

Pemerintah Gaza menyatakan runtuhnya bangunan tersebut semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah itu. Mereka meminta masyarakat internasional menekan 'Israel' agar membuka seluruh perlintasan dan mengizinkan masuknya alat berat, perlengkapan Pertahanan Sipil, serta bantuan kemanusiaan.

'Israel' memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya alat berat ke Gaza. Akibatnya, tim penyelamat di sejumlah lokasi masih mengandalkan tenaga manual untuk mencari korban di bawah reruntuhan. (zarahamala/arrahmah.id)