Memuat...

Asy Syaraa Buka KTT Media Arab di Dubai

Hanoum
Kamis, 17 September 2026 / 6 Rabiulakhir 1448 07:37
Asy Syaraa Buka KTT Media Arab di Dubai
Presiden Suriah Ahmed Asy Syaraa berbicara dalam konferensi pers di Ankara, Turki, pada 4 Februari 2025. [Foto: AFP/Ozan Kose]

DUBAI (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa menyampaikan pidato pembukaan pada Arab Media Summit 2026 di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Selasa, 15 September 2026. Dalam forum tersebut, Asy Syaraa memaparkan pandangannya mengenai masa depan Suriah, transformasi negaranya setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad, serta peluang pembangunan dan kerja sama ekonomi dengan negara-negara Arab.

Dilansir SANA (16/9/26), kehadiran Asy Syaraa menjadi bagian utama pembukaan KTT Media Arab yang berlangsung pada 15–17 September. Ini merupakan pertama kalinya seorang kepala negara Suriah tampil dalam forum tersebut. Dialognya mengangkat tema “Syria of the Future” dan mempertemukan Asy Syaraa dengan para pemimpin serta tokoh media Arab untuk membahas perkembangan Suriah dan kawasan.

Dalam pidatonya, Asy Syaraa menggambarkan Suriah sebagai negara yang sedang mengalami perubahan besar, dari pusat konflik dan persoalan keamanan regional menuju negara yang menurutnya dapat menjadi bagian dari stabilitas, perdagangan, dan rantai pasok kawasan. Ia mengatakan perubahan tersebut membuka peluang baru bagi Suriah untuk berperan dalam hubungan ekonomi dan strategis antara kawasan Timur Tengah dan dunia internasional.

Asy Syaraa juga menyoroti pemulihan ekonomi sebagai salah satu agenda utama pemerintahannya. Ia memperkirakan perekonomian Suriah dapat mencapai sekitar US$50 miliar pada 2026, dibandingkan sekitar US$20 miliar pada 2024. Ia menyebut Suriah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai persoalan keamanan dan politik, tetapi sebagai peluang ekonomi dan strategis bagi kawasan.

Di sektor perdagangan dan investasi, Asy Syaraa menyinggung posisi geografis Suriah yang dapat menjadi jalur alternatif yang menghubungkan pelabuhan Mediterania dengan negara-negara Teluk melalui Irak. The National melaporkan bahwa pemerintah Suriah juga tengah mendorong investasi dari UEA, termasuk rencana pengembangan Pelabuhan Tartus melalui kesepakatan awal senilai sekitar US$800 juta dengan DP World.

Presiden Suriah itu juga menyampaikan bahwa pencabutan sanksi terhadap Suriah telah membuka ruang bagi investasi dan pemulihan ekonomi. Dalam laporan i24NEWS, Asy Syaraa menyebut pencabutan sanksi sebagai titik balik dan mengaitkannya dengan upaya diplomatik yang melibatkan Arab Saudi dan Turki dalam hubungan dengan pemerintahan Amerika Serikat.

Namun, penampilan Asy Syaraa di Dubai berlangsung ketika pemerintahannya menghadapi persoalan ekonomi di dalam negeri. Sehari sebelum pidatonya, demonstrasi terjadi di sejumlah wilayah Suriah setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar. Reuters melaporkan harga diesel naik sekitar 40 persen, sementara kenaikan harga bensin juga memicu protes di sejumlah daerah. Perkembangan tersebut menjadi salah satu tantangan domestik bagi pemerintah yang tengah berupaya memulihkan perekonomian setelah bertahun-tahun dilanda perang dan sanksi.

Arab Media Summit 2026 sendiri merupakan edisi ke-24 dan disebut sebagai penyelenggaraan terbesar dalam sejarah forum tersebut. Menurut penyelenggara, lebih dari 400 pembicara dijadwalkan hadir dalam lebih dari 175 sesi, dengan peserta dari berbagai negara. Agenda forum mencakup kecerdasan buatan, transformasi digital, teknologi baru, produksi konten, media sosial, jurnalisme, penyiaran, serta perubahan perilaku audiens.

Dalam pertemuan dengan para pemimpin media Arab, Asy Syaraa juga menekankan pentingnya pemberitaan yang berbasis fakta, kredibilitas, dan tanggung jawab. Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan bahwa ia membahas perkembangan terbaru di Suriah dan kawasan, hubungan bilateral dengan negara-negara Arab, serta upaya pemerintah untuk mendorong keamanan, stabilitas, dan pembangunan.

Kehadiran Asy Syaraa di Dubai dengan demikian tidak hanya menjadi agenda diplomatik, tetapi juga menjadi kesempatan bagi pemerintah Suriah untuk menyampaikan arah baru negaranya kepada publik regional dan kalangan media Arab. Pidato tersebut berlangsung ketika Damaskus berupaya menarik investasi, membangun kembali hubungan regional, dan menghadapi tekanan ekonomi domestik dalam proses transisi pascajatuhnya pemerintahan Assad. (hanoum/arrahmah.id)