NEW YORK (Arrahmah.id) -- Kelompok militan Al Qaeda merilis video propaganda baru yang menampilkan sosok yang disebut sebagai Hamza bin Laden, putra pendiri Al-Qaeda Osama bin Laden, bertepatan dengan peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001. Video tersebut muncul melalui jaringan media pendukung Al Qaeda pada 10 September 2026, sehari sebelum peringatan serangan.
Dilansir Aamaj News (11/9/2026), video berjudul “A Quarter Century from the September 11th Raids” itu dipublikasikan melalui kanal media yang terkait dengan Al Qaeda dan kemudian disebarkan kembali oleh sejumlah akun pemantau kelompok jihad di media sosial.
Jihadology mengidentifikasi materi tersebut sebagai produksi baru Al Qaeda yang memperingati seperempat abad serangan 9/11. Materi itu tidak sekadar mengingat peristiwa 2001, tetapi berupaya menempatkannya sebagai bagian dari narasi sejarah dan propaganda organisasi hingga saat ini.
Kemunculan Hamza menjadi bagian paling menonjol dari video tersebut. MEMRI melaporkan bahwa materi itu menampilkan penampilan langka Hamza bin Laden dalam video retrospektif Al Qaeda yang memuji serangan 11 September.
Laporan tersebut menyebut kemunculannya sebagai upaya organisasi untuk menghubungkan generasi baru Al Qaeda dengan figur keluarga bin Laden dan warisan pendiri kelompok tersebut. Namun, identitas, waktu perekaman, dan status aktual Hamza tidak dapat ditentukan hanya dari materi propaganda itu.
Laporan mengenai keberadaan Hamza memang telah berubah selama bertahun-tahun. Pada 2019, sejumlah pejabat Amerika Serikat menyatakan Hamza telah tewas dalam operasi kontraterorisme, tetapi pemerintah AS ketika itu tidak mengungkapkan lokasi maupun waktu kematiannya secara rinci.
Pada 2024, muncul laporan yang kembali menyebut Hamza masih hidup dan berada di Afghanistan, tetapi laporan tersebut tidak disertai konfirmasi independen yang memadai. Karena itu, video terbaru ini penting bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena dapat memberikan petunjuk baru mengenai bagaimana Al Qaeda menggunakan figur Hamza dalam komunikasi publiknya.
Hamza sendiri bukan figur baru dalam propaganda Al Qaeda. Sejak masih muda, ia telah muncul dalam materi propaganda organisasi dan secara bertahap dipromosikan sebagai salah satu figur penerus warisan ayahnya.
Sejumlah analis kontraterorisme kemudian memperkirakan bahwa Al Qaeda dapat menggunakan namanya untuk mempertahankan hubungan simbolis dengan era Osama bin Laden, terutama setelah kematian bin Laden pada 2011 dan Ayman al-Zawahiri pada 2022. Namun, tidak ada bukti terbuka yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Hamza saat ini menjalankan kendali operasional atas seluruh jaringan Al Qaeda.
Kemunculan video tersebut juga terjadi ketika Al Qaeda berusaha mempertahankan relevansinya di tengah perubahan besar gerakan jihad global. Reuters melaporkan bahwa 25 tahun setelah 9/11, Al Qaeda jauh lebih lemah dibandingkan ketika dipimpin bin Laden, tetapi jaringan tersebut belum hilang. Organisasi itu kini lebih terdesentralisasi dan bergantung pada cabang regional seperti Asy Syabaab di Somalia serta Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin atau JNIM di kawasan Sahel.
Perubahan tersebut membuat video Hamza memiliki arti terutama sebagai alat komunikasi dan simbol kontinuitas organisasi, bukan bukti bahwa Al Qaeda kembali memiliki kekuatan seperti pada 2001.
Reuters mencatat bahwa setelah kematian para pemimpin utamanya, Al Qaeda bertransformasi menjadi jaringan yang lebih tersebar dan lebih sulit dilacak. Aktivitas cabang-cabang regional kini jauh lebih menonjol daripada operasi yang dikendalikan langsung oleh kepemimpinan pusat.
Sejumlah kajian juga melihat kemunculan kembali materi Hamza sebagai bagian dari upaya organisasi mempertahankan narasi sejarahnya. Brookings sebelumnya mencatat bahwa Al Qaeda memiliki perhatian khusus terhadap peringatan serangan 11 September dan secara berkala menggunakan momentum tersebut untuk menerbitkan materi propaganda.
Peringatan seperempat abad pada 2026 memberikan kesempatan bagi organisasi untuk menghubungkan sejarah serangan 2001 dengan pesan yang ditujukan kepada audiens jihadisme masa kini.
Namun, lanskap jihadisme saat ini telah berubah drastis dibandingkan seperempat abad lalu. Islamic State atau ISIS sempat mengambil posisi lebih dominan dalam propaganda jihad global setelah mendeklarasikan kekhilafahan di Irak dan Suriah pada 2014, meskipun kekuasaan teritorialnya kemudian runtuh. Al Qaeda sendiri memilih pendekatan yang lebih tersebar dan mempertahankan sejumlah cabang regional. The Arab Weekly menilai bahwa organisasi tersebut kini lebih lemah secara terpusat, tetapi tetap memiliki jaringan yang mampu bertahan di kawasan konflik, terutama Afrika.
Di tengah kondisi tersebut, video terbaru memperlihatkan bahwa warisan Osama bin Laden masih digunakan sebagai aset propaganda oleh Al Qaeda. Penggunaan figur Hamza memungkinkan organisasi menghubungkan masa lalu dengan generasi sekarang, meskipun kapasitas Al-Qaeda saat ini tidak lagi sebanding dengan jaringan yang merencanakan serangan 11 September.
Analisis Reuters menyebut organisasi itu masih mempunyai pengaruh signifikan dalam jihadisme global, tetapi berada dalam posisi yang jauh lebih lemah dibandingkan dua dekade lalu. (hanoum/arrahmah.id)
