GAZA (Arrahmah.id) - Meski kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, militer 'Israel' terus melancarkan serangan mematikan di wilayah-wilayah yang seharusnya berada di luar kendali mereka. Pada Jumat (13/3/2026), tiga pemuda Palestina gugur seketika setelah sebuah drone 'Israel' menargetkan mereka saat berada di Jalan Mushtaha, lingkungan Shuja'iyya, Kota Gaza.
Selain korban jiwa, serangan drone lainnya di lingkungan Al-Tuffah menyebabkan empat orang terluka. Sementara di wilayah Utara, seorang anak dilaporkan menderita luka sedang akibat tembakan militer 'Israel' yang menyasar Kamp Halawa, sebuah lokasi pengungsian bagi warga sipil di Jabalia.
Tim medis mengonfirmasi tiga syuhada yang dibawa ke Rumah Sakit Al-Ahli Baptist adalah Mahmoud Saher Al-Seiqali (17), Yunis Saed Ayyad (17), dan Abdullah Tayseer Shomer (20). Militer 'Israel' dilaporkan melakukan penembakan tank dan artileri secara intensif di wilayah Timur dan Selatan Khan Yunis, serta melepaskan tembakan dari kapal perang di perairan tersebut.
Data Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata dimulai pada 11 Oktober 2025, total korban tewas telah mencapai 651 orang dan 1.741 lainnya luka-luka.
Secara keseluruhan, sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban syahid di Gaza telah menyentuh angka 72.136 jiwa. Namun, studi terbaru dari jurnal medis The Lancet Global Health memperkirakan angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi, yakni melebihi 75.000 jiwa hanya dalam 15 bulan pertama perang.
Badan pengungsi PBB (UNRWA) memperingatkan bahwa kondisi di Gaza tetap sangat sulit. Pembatasan akses bantuan membuat volume kebutuhan warga jauh melampaui apa yang diizinkan masuk saat ini.
Pelanggaran ini memperparah penderitaan warga Gaza yang infrastrukturnya sudah hancur lebur akibat perang selama dua tahun terakhir. Ketidakmampuan otoritas internasional untuk menghentikan "khuruqat" atau pelanggaran harian ini membuat kesepakatan damai yang ditandatangani tahun lalu tampak semakin rapuh, terutama saat fokus militer 'Israel' dan AS kini terbagi ke front Iran. (zarahamala/arrahmah.id)
