RAMALLAH (Arrahmah.id) - Berbagai data resmi dan lembaga hak asasi manusia Palestina melaporkan adanya lonjakan kuantitatif maupun kualitatif dalam pelanggaran 'Israel' di Tepi Barat yang diduduki sepanjang Juli lalu. Aksi kekerasan yang dimotori oleh militer dan para pemukim ekstremis tersebut dinilai sebagai bagian dari sistem terstruktur untuk merusak eksistensi warga Palestina di tanah mereka sendiri.
Berdasarkan laporan gabungan dari Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman, Kementerian Wakaf, Gubernur Yerusalem, serta pusat informasi Palestina Ma'ta, bulan Juli mencatat rekor tertinggi dalam berbagai bentuk penindasan, mulai dari pembunuhan, penggusuran, perluasan permukiman ilegal, hingga penyerangan terhadap tempat-tempat suci.
Pusat Informasi Ma'ta mencatat sebanyak 16 warga Palestina gugur dan 237 lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan dan serangan aparat serta pemukim 'Israel' sepanjang bulan lalu. Sementara itu, Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman mendokumentasikan 2.256 aksi pelanggaran, di mana 798 di antaranya dilakukan secara langsung oleh para pemukim. Kepala Komisi, Muayyad Shaaban, menyatakan bahwa kekerasan ini melibatkan kolaborasi sistematis antara kekuatan militer yang memberikan perlindungan dan aksi teror para pemukim.
Data menunjukkan rekor tertinggi kekerasan pemukim terjadi di Nablus, Hebron (Al-Khalil), serta Ramallah dan Al-Bireh, yang mengakibatkan gugurnya 7 warga. Selain itu, aksi perusakan dan pembakaran meluas hingga mencakup lebih dari 5.000 pohon yang dirusak atau diracuni, serta upaya pendirian 29 pos terdepan (outpost) pemukiman baru.
Di bidang tata kota dan perumahan, otoritas pendudukan Israel melaksanakan 80 operasi penghancuran yang merusak 165 fasilitas, termasuk 80 rumah tinggal berpenghuni, demi memberi jalan bagi perencanaan pembangunan lebih dari 1.128 unit rumah ilegal baru.
Di Yerusalem, Gubernur setempat melaporkan eskalasi sistematis yang mencakup penyerbuan ke Masjid Al-Aqsa oleh 9.848 pemukim, termasuk insiden terbesar pada 23 Juli yang melibatkan para menteri dan anggota Knesset 'Israel'. Selain itu, Kementerian Wakaf mencatat pelarangan azan hingga 155 kali di Masjid Ibrahimi, Hebron, serta aksi pembakaran terhadap tiga masjid di Tepi Barat sepanjang bulan Juli. (zarahamala/arrahmah.id)
