Memuat...

Houtsi Blokade Laut Merah untuk Arab Saudi, Pasar Minyak Dunia Bergejolak

Hanoum
Selasa, 21 Juli 2026 / 7 Safar 1448 05:15
Houtsi Blokade Laut Merah untuk Arab Saudi, Pasar Minyak Dunia Bergejolak
Sebuah kapal, yang diyakini milik angkatan laut Prancis, menuju Selat Bab el-Mandeb pada 20 Januari 2024, di Tadjoura, Djibouti. [Foto: Luke Dray/Getty Images]

SANAA (Arrahmah.id) -- Milisi Syiah Houtsi di Yaman mengumumkan pemberlakuan blokade maritim terhadap Arab Saudi di Laut Merah, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur perdagangan energi global dan mendorong pelaku pasar bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan minyak.

Dilansir Al Monitor (20/7/2026), pengumuman tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan regional menyusul serangan terhadap Bandara Internasional Sanaa dan eskalasi konflik antara Houtsi dan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

Dalam pernyataannya, dikutip dari BBC, Houtsi menyebut kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi kini menjadi sasaran blokade di Laut Merah. Kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman itu menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan respons atas serangan udara yang menghantam fasilitas sipil dan infrastruktur di Yaman, termasuk Bandara Internasional Sanaa.

Juru bicara senior Houtsi, Mohammed al-Bukhaiti, memperingatkan bahwa kelompoknya siap meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi apabila serangan terhadap Yaman terus berlanjut.

"Jika agresi terhadap Yaman tidak dihentikan, kami akan memperluas langkah-langkah kami dan memberlakukan pengepungan terhadap Arab Saudi," ujar Mohammed al-Bukhaiti dalam pernyataan yang dikutip BBC.

Menurut laporan Al-Monitor, deklarasi blokade tersebut segera memicu kekhawatiran di pasar energi internasional karena Laut Merah merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan minyak dunia. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Terusan Suez dan Laut Mediterania, sehingga setiap gangguan keamanan berpotensi memengaruhi harga energi global.

The New York Times melaporkan bahwa sejumlah perusahaan pelayaran dan asuransi maritim mulai mengevaluasi ulang risiko operasional mereka di kawasan Laut Merah setelah pengumuman Houthi.

Arab Saudi hingga kini belum mengumumkan langkah balasan resmi terkait deklarasi blokade tersebut. Namun sejumlah pejabat keamanan regional menilai ancaman Houtsi terhadap jalur pelayaran internasional merupakan perkembangan serius yang dapat memperluas konflik di kawasan.

Sejak akhir 2023, Houtsi telah berulang kali menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah dengan rudal dan drone, mengklaim tindakan tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina dan perlawanan terhadap sekutu-sekutu Barat di kawasan.

Serangan-serangan tersebut sebelumnya telah menyebabkan sejumlah perusahaan pelayaran mengalihkan rute kapal mereka mengitari Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang meningkatkan waktu dan biaya pengiriman. (hanoum/arrahmah.id)