YERUSALEM (Arrahmah.id) - Pasukan 'Israel' melancarkan operasi militer di Kamp Pengungsi Shuafat dan Kota Anata, timur laut Yerusalem, pada Selasa (8/9/2026). Operasi tersebut disertai pengerahan kendaraan militer dan buldoser serta penutupan seluruh akses menuju kedua wilayah.
Militer 'Israel' menyebut operasi itu sebagai tindakan terarah untuk mencegah aktivitas kelompok Palestina dan menyita senjata. Namun, Pemerintah Provinsi Yerusalem menilai alasan keamanan tersebut tidak cukup menjelaskan skala operasi dan menduga ada tujuan politik di baliknya.
Menurut Pemerintah Provinsi Yerusalem, pasukan 'Israel' menggerebek dan menggeledah puluhan rumah serta toko, merusak sejumlah properti, dan menangkap sedikitnya 100 warga Palestina. Aktivitas warga juga dibatasi, sementara sekolah, taman kanak-kanak, toko dan pasar ditutup.
Operasi tersebut turut menghambat pergerakan ambulans dan pasien penyakit kronis menuju rumah sakit. Pemerintah Provinsi Yerusalem menyebut tindakan itu melumpuhkan kehidupan sekitar 80 ribu warga di wilayah operasi.
Juru bicara Pemerintah Provinsi Yerusalem, Omar al-Rujoub, mengatakan operasi di Shuafat dan Anata merupakan bagian dari pola yang lebih luas, setelah sebelumnya pasukan 'Israel' melakukan operasi serupa di Kamp Qalandia dan Kafr Aqab.
Menurutnya, penutupan akses, pemberlakuan jam malam, penggerebekan rumah, penangkapan dan penguasaan properti secara berulang dapat mengubah kawasan Palestina di sekitar Yerusalem menjadi wilayah yang terisolasi dan mudah dikendalikan secara militer.
Anata memiliki sekitar 30 ribu penduduk. Pemerintah kota setempat sebelumnya menyebut sekitar 90 persen tanahnya telah disita atau dikuasai 'Israel' dan sebagian wilayahnya terpisah dari Yerusalem oleh tembok pemisah.
Sementara itu, Kamp Pengungsi Shuafat berjarak sekitar lima kilometer dari pusat Yerusalem. Kamp yang berdiri sejak 1965 tersebut dihuni lebih dari 70 ribu orang dan dikelilingi tembok pemisah serta permukiman 'Israel'.
Pemerintah Provinsi Yerusalem memperingatkan bahwa tekanan terhadap Shuafat dan Anata tidak hanya berdampak pada kehidupan sehari-hari warga, tetapi juga berpotensi semakin memecah keterhubungan wilayah Palestina di sekitar Yerusalem. (zarahamala/arrahmah.id)
