GAZA (Arrahmah.id) -- Kelompok perlawanan palestina Hamas menuduh 'Israel' berupaya menyembunyikan bukti dugaan kejahatan berat di Jalur Gaza dengan memindahkan, menghancurkan, dan mengangkut puing-puing bangunan sebelum jenazah korban dan bukti forensik dapat dikumpulkan. Tuduhan itu disampaikan Hamas pada Senin (7/9/2026), ketika operasi pembersihan puing di sejumlah wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militer 'Israel' mendapat sorotan internasional.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir Anadolu Agency (8/9), Hamas mengatakan ribuan orang yang dinyatakan hilang diyakini masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang hancur selama perang. Kelompok tersebut menilai pemindahan puing tanpa pemeriksaan forensik terlebih dahulu berisiko menghilangkan jejak yang dapat digunakan untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hukum internasional.
“Pemerintah pendudukan dan tentaranya berupaya menyembunyikan bukti kejahatan brutal yang dilakukan terhadap rakyat kami di Jalur Gaza melalui pengangkutan, penghancuran, dan pemindahan puing-puing,” kata Hamas dalam pernyataan yang dikutip Anadolu Agency.
Tuduhan Hamas tersebut muncul sehari setelah Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, memperingatkan bahwa pembersihan puing dalam skala besar dapat mengancam bukti terkait dugaan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.
Albanese mengatakan puing-puing Gaza tidak hanya berupa material bangunan, tetapi juga dapat mengandung jenazah manusia serta bukti fisik yang penting bagi penyelidikan internasional.
“Penghancuran bukti kejahatan kekejaman adalah tindakan ilegal. Tidak dapat diterima jika rekonstruksi Gaza dikondisikan pada penghapusan masa lalunya dan bukti yang diperlukan untuk memperoleh keadilan bagi para korban,” ujar Francesca Albanese.
Ia menyerukan agar pengumpulan bukti, identifikasi jenazah, dan dokumentasi dilakukan sebelum puing-puing dipindahkan atau dihancurkan.
Menurut laporan Reuters, perang yang berlangsung sejak serangan Hamas terhadap 'Israel' pada Oktober 2023 telah menghasilkan sekitar 61 juta ton puing di Gaza. Pembersihan seluruh material tersebut diperkirakan dapat membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Reuters melaporkan bahwa Albanese meminta proses pembersihan dilakukan dengan terlebih dahulu mengamankan bukti forensik dan menemukan serta mengidentifikasi jenazah yang masih berada di bawah reruntuhan.
Otoritas Palestina memperkirakan lebih dari 10.000 orang masih terkubur di bawah puing-puing, meskipun angka tersebut merupakan estimasi dan belum dapat diverifikasi secara independen. Keterbatasan alat berat dan perlengkapan forensik juga menjadi hambatan bagi tim pertahanan sipil Gaza untuk melakukan pencarian secara sistematis. (hanoum/arrahmah.id)
