SANAA (Arrahmah.id) - Kelompok Houtsi di Yaman mengumumkan keberhasilan operasi militer gabungan menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan menyusul deklarasi sepihak kelompok tersebut terkait maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi.
Juru bicara militer Houtsi, Yahya Saree, dalam pernyataan video mengeklaim bahwa operasi militer tersebut menargetkan kapal minyak Encelia dan Layla karena dianggap melanggar keputusan pelarangan yang dikeluarkan oleh pihak mereka. Saree juga mengeklaim bahwa pihaknya telah memaksa sekitar 10 kapal komersial untuk berbalik arah, serta menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan apa yang disebut sebagai persamaan blokade dengan blokade.
Sebelumnya pada Senin (20/7/2026), Houtsi secara resmi mengumumkan pembatasan navigasi maritim terhadap Arab Saudi dan melayangkan peringatan melalui email kepada perusahaan-perusahaan pelayaran agar tidak memuat atau membongkar muatan di pelabuhan Saudi, dengan ancaman penargetan di mana saja. Sementara itu, pihak keamanan maritim Inggris (UKMTO) melaporkan telah menerima laporan insiden di sekitar 70 mil laut dari Al-Shuqaiq, Arab Saudi.
Menanggapi ancaman tersebut, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam keras deklarasi Houtsi dan berjanji akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapal dagangnya sesuai dengan hukum internasional dan Konvensi Hukum Laut PBB 1982. Riyadh juga mendesak komunitas internasional untuk menegakkan resolusi Dewan Keamanan PBB, termasuk Resolusi 2216 mengenai Yaman dan Resolusi 2722 terkait kebebasan navigasi di Laut Merah.
Dari pihak resmi Yaman, Menteri Informasi Maamer Al-Eryani menyatakan bahwa langkah Houtsi memblokade jalur pelayaran bukanlah keputusan mandiri, melainkan bagian dari agenda eskalasi regional yang dikendalikan oleh Iran. Senada dengan itu, Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensial Yaman, Rashad Al-Alimi, menegaskan bahwa negara tidak akan membiarkan milisi Houthi menyeret Yaman ke dalam eskalasi lanjutan atau memonopoli keputusan perang dan damai.
Secara internasional, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras kepada kelompok Houtsi. Berbicara di Gedung Putih saat menerima kunjungan Presiden Lebanon Joseph Aoun, Trump menyatakan bahwa Washington akan "mengurus" kelompok tersebut jika mereka benar-benar merealisasikan ancaman blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi, merujuk pada operasi militer AS sebelumnya terhadap posisi-posisi Houtsi. (zarahamala/arrahmah.id)
