JAKARTA (Arrahmah.id) — Seorang siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, berinisial Aqib (7), meninggal dunia pada Rabu (30/9/2025) sore.
Korban diduga tewas setelah menjadi korban perundungan (bullying) dan penganiayaan oleh kakak kelasnya.
Untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban, jenazah Aqib diautopsi oleh tim forensik Bidokkes Polda Jawa Tengah di RSUD M Azhari Pemalang.
Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar, membenarkan pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat terkait kasus meninggalnya bocah tersebut.
"Ya, kami Sat Reskrim bersama Polsek Pemalang Kota menerima laporan dari masyarakat atau adanya informasi bahwa ada seorang anak meninggal dunia yang diduga akibat adanya tindakan kekerasan," kata AKP M Wildan Umar saat ditemui di RSUD M Azhari, Kamis (1/10/2025).
Wildan menyatakan, sejak Rabu (30/9) malam, jajarannya telah bergerak cepat dengan meminta keterangan awal dari sejumlah saksi, termasuk orang tua korban.
"Dan hari ini, kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban. Terkait jenazah nanti kami akan jelaskan, kami akan dalami dengan pihak tim forensik Biddokkes Polda Jateng. Karena saat ini terkait dengan pelaksanaan autopsi kami dibantu oleh Biddokkes Polda Jateng secara scientific crime investigation," tambahnya.
Sempat Dirawat di Rumah Sakit
Ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengaku sangat terpukul atas kepergian anak ketiganya itu. Diah bercerita bahwa sebelum meninggal, anaknya sempat dirawat selama sembilan hari di RSUD M Azhari sejak Kamis (17/9).
Korban sempat diperbolehkan pulang ke rumah selama tiga hari, namun kembali drop hingga akhirnya meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit pada Rabu (30/9) sore.
Menurut Diah, buah hatinya mengalami perubahan drastis semenjak jatuh sakit. Anak yang semula periang dan doyan makan itu berubah menjadi sangat pendiam. Korban bahkan awalnya tidak berani menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada keluarganya, dan baru menceritakan aksi perundungan tersebut setelah diperiksa oleh dokter.
"Anak itu biasanya ceria tapi berubah, pendiam. Dia baru bercerita itu setelah diperiksa sama dokter, baru dia cerita," ungkap Diah.
Dari cerita sang anak, diketahui penganiayaan tersebut terjadi pada saat jam istirahat sekolah.
Korban mengaku dipukul di bagian perut serta ditendang menggunakan sepatu oleh kakak kelasnya. Diah menuturkan, dirinya menemukan sejumlah luka memar di bagian perut dan kaki anaknya.
"Dipukul perut, ada yang menendang pakai sepatu. Memar di perut dan kaki, warna biru-biru lebam. Tiga hari di rumah, anak merasakan sakit-sakit, mengeluhkan perut sakit," imbuhnya.
Kondisi tersebut bahkan membuat korban kesulitan berjalan dan merasa kesakitan saat diangkat.
Kecewa dengan Pihak Sekolah dan Harapan Keluarga
Sementara itu, ayah korban, Nurwandi (43), mengaku sempat mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan terkait dugaan perundungan yang dialami putranya. Namun, upayanya belum membuahkan hasil yang memuaskan.
Nurwandi mengatakan, sebelum meninggal dunia, anaknya sempat mengenali para pelaku melalui foto yang ditunjukkan kepadanya. Korban menunjuk tiga orang anak, yang terdiri dari dua siswa kelas 5 dan satu siswa kelas 6 SD.
"Saya mencoba minta kejelasan sekolah, namun belum ada hasilnya," ujar Nurwandi.
Keluarga korban kini berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas dan mengungkap secara gamblang kasus dugaan kekerasan ini agar keadilan bagi almarhum Aqib dapat ditegakkan.
"Harapan kami selaku orang tua udah cukup Aqib saja. Yang lain jangan. Mungkin saya ikhlas enggak ikhlas, karena anak enggak sakit nggih. Jadi kan saya merasa, kok enggak sakit, kok tiba-tiba kayak gitu," pungkas Diah dengan nada pilu.
(ameera/arrahmah.id)
