Memuat...

Iran di Ambang Krisis, Khamenei Serukan “Jihad Ekonomi” Hadapi AS dan “Israel”

Samir Musa
Sabtu, 2 Mei 2026 / 15 Zulkaidah 1447 07:08
Iran di Ambang Krisis, Khamenei Serukan “Jihad Ekonomi” Hadapi AS dan “Israel”
Para tentara dari angkatan bersenjata Iran melambaikan bendera nasional di depan gambar pemimpin tertinggi selama sebuah pawai di Teheran (European Press Agency).

TEHERAN (Arrahmah.id) – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyerukan rakyatnya untuk tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, dengan mengusung apa yang ia sebut sebagai “jihad ekonomi” menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan “Israel”, lansir Al Jaazera.

Seruan tersebut disampaikan dalam pesan tertulis yang bertepatan dengan peringatan Hari Buruh dan Hari Guru di Iran. Dalam pernyataannya, Khamenei menekankan bahwa kemajuan sebuah negara bergantung pada dua pilar utama: kerja keras dan ilmu pengetahuan.

Ia menyebut bahwa Iran telah menunjukkan ketahanannya dalam menghadapi tekanan militer dari musuh. Namun menurutnya, tantangan yang lebih besar kini berada di sektor ekonomi dan budaya.

Mojtaba Khamenei: Iran telah membuktikan kepada dunia—dalam konfrontasi militernya dengan musuh—sebagian dari kemampuan luar biasanya (pers Iran).

“Hari ini kita harus mampu menggagalkan rencana musuh dan mengalahkan mereka dalam medan jihad ekonomi dan budaya,” ujarnya.

Khamenei juga menyerukan agar masyarakat mendukung produk dalam negeri serta memprioritaskan konsumsi barang lokal. Ia turut meminta para pelaku usaha, khususnya yang terdampak krisis, agar sebisa mungkin menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

Menurutnya, dunia kerja mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari rumah, kantor, pertanian, hingga sektor industri dan jasa. Ia menegaskan bahwa kerja keras dan komitmen merupakan fondasi utama kemajuan suatu bangsa.

Seruan ini muncul di tengah kondisi ekonomi Iran yang semakin tertekan. Meski telah terjadi Gencatan Senjata, laporan menyebutkan bahwa pasukan Amerika masih melakukan pembatasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang berdampak pada terganggunya ekspor minyak.

Di sisi lain, inflasi dilaporkan telah menembus lebih dari 50 persen dalam beberapa pekan terakhir. Nilai mata uang rial Iran juga terus melemah terhadap dolar AS.

Seorang pejabat ketenagakerjaan menyebutkan bahwa sekitar 191 ribu orang telah mengajukan klaim pengangguran akibat kehilangan pekerjaan yang dipicu oleh dampak perang dan krisis ekonomi.

(Samirmusa/arrahmah.id)