TEHERAN (Arahmah.id) -- Pemerintah Iran menyatakan bahwa mereka menerima dukungan militer dari Rusia dan Cina di tengah konflik yang memanas dengan Amerika Serikat dan 'Israel'. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran yang menegaskan bahwa kedua negara itu merupakan mitra strategis Teheran dan telah memberikan berbagai bentuk kerja sama, termasuk di bidang pertahanan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan, seperti dilansir Khamaa Press (15/3/2026), bahwa hubungan antara Iran, Rusia, dan China telah lama terjalin dalam berbagai sektor. Ia menyebut kerja sama tersebut tidak hanya terbatas pada bidang politik dan ekonomi, tetapi juga mencakup kerja sama militer.
“Kami memiliki kerja sama yang baik dengan Rusia dan Cina, termasuk dalam bidang militer,” ujarnya ketika menanggapi pertanyaan mengenai dukungan terhadap Iran dalam perang melawan Amerika Serikat dan 'Israel'.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa dukungan tersebut dapat mencakup berbagai bentuk bantuan, seperti pertukaran intelijen, dukungan teknologi militer, serta koordinasi strategis untuk menghadapi tekanan militer dari Washington dan sekutunya.
Beberapa pejabat Barat bahkan menilai Rusia telah memberikan informasi intelijen kepada Iran terkait posisi aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Informasi tersebut diduga digunakan untuk membantu Iran menargetkan pangkalan atau fasilitas militer AS di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Cina juga disebut memberikan dukungan dalam bentuk diplomasi internasional serta bantuan teknis terbatas, termasuk penyediaan komponen dan suku cadang militer tertentu yang membantu Iran mempertahankan kemampuan pertahanannya.
Hubungan strategis Iran dan Rusia sendiri semakin diperkuat setelah kedua negara menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada 2025 yang mencakup kerja sama keamanan, teknologi, energi, dan pertahanan untuk jangka panjang.
Para analis geopolitik menilai pernyataan Iran mengenai dukungan Rusia dan China juga merupakan pesan politik kepada Amerika Serikat dan 'Israel' bahwa Teheran tidak berdiri sendiri dalam konflik tersebut. Dengan dukungan dua kekuatan besar dunia itu, Iran berupaya meningkatkan daya tawar dan kemampuan deterensinya dalam menghadapi tekanan militer yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan di kawasan sendiri terus meningkat sejak serangan militer Amerika Serikat dan 'Israel' terhadap sejumlah fasilitas Iran pada akhir Februari 2026 yang kemudian memicu serangkaian serangan balasan berupa rudal dan drone dari Teheran ke berbagai target di Timur Tengah. Situasi ini membuat konflik berpotensi berkembang menjadi krisis geopolitik yang lebih luas dengan keterlibatan kekuatan global. (hanoum/arrahmah.id)
