Memuat...

Iran Ogah Negosiasi, Trump Ancam Hancurkan Iran Besok

Zarah Amala
Selasa, 21 April 2026 / 4 Zulkaidah 1447 08:31
Iran Ogah Negosiasi, Trump Ancam Hancurkan Iran Besok
Personel keamanan Pakistan berjaga di pos pemeriksaan di jalan menuju Hotel Serena, tempat negosiasi diperkirakan akan berlangsung [Getty]

ISLAMABAD (Arrahmah.id) - Hari ke-14 masa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diwarnai ketidakpastian yang mendalam. Hingga Selasa (21/4/2026), Teheran belum memberikan konfirmasi mengenai keikutsertaan mereka dalam putaran kedua negosiasi di Islamabad, Pakistan, yang sedianya dijadwalkan berlangsung hari ini.

Di tengah situasi yang menggantung, Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan bernada keras. Ia menegaskan bahwa Wakil Presiden JD Vance akan tetap menghadiri sesi negosiasi di Islamabad untuk menunjukkan keseriusan pihak AS.

Namun, Trump juga memberikan ultimatum tegas. Trump mengancam akan melepaskan daya hancur yang besar terhadap Iran jika jalur diplomasi ini gagal mencapai kata sepakat. Trump secara implisit menutup pintu bagi perpanjangan gencatan senjata jika kesepakatan final tidak berhasil diraih dalam waktu dekat.

Trump juga mengeklaim telah meraih kemenangan mutlak dalam perang ini dan menolak kritik dari lawan politik domestiknya terkait strategi militernya.

Respons Teheran: "Tidak Ada Rencana Negosiasi"

Sikap yang jauh berbeda ditunjukkan oleh pihak Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Senin (20/4) secara tegas menyatakan bahwa saat ini tidak ada rencana bagi Iran untuk melakukan putaran kedua negosiasi dengan Washington.

"Ada kontradiksi yang jelas antara kata-kata dan tindakan Amerika," ujar Baghaei. Ia menuding Washington tidak serius dalam proses diplomasi karena terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sejak 8 April lalu.

Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, dilaporkan telah mengintensifkan komunikasi dengan kedua belah pihak dalam 24 jam terakhir untuk mencoba menyelamatkan meja perundingan. Mengingat masa gencatan senjata dua pekan akan berakhir pada Rabu (22/4), posisi Islamabad kini berada dalam tekanan waktu yang sangat ketat untuk mencegah kembali meletusnya konflik bersenjata yang lebih destruktif.

Analis memandang situasi ini sebagai titik nadir diplomasi. Jika Iran benar-benar memboikot pertemuan di Islamabad, ancaman Trump untuk menghancurkan infrastruktur vital Iran bukan lagi sekadar retorika politik, melainkan skenario militer yang sangat mungkin terjadi dalam waktu kurang dari 48 jam ke depan.

Dunia kini menanti, apakah Teheran akan mengirimkan delegasi di menit-menit terakhir, atau apakah dunia akan menyaksikan berakhirnya jeda perang dan dimulainya eskalasi militer yang jauh lebih besar. (zarahamala/arrahmah.id)