JAKARTA (Arrahmah.id) — Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, mengajak Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) untuk bersinergi dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui program Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih.
Ajakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab berbagai tantangan operasional di tingkat desa sekaligus mendukung visi pemerintahan Prabowo Subianto.
Ajakan tersebut disampaikan dalam acara Halal Bihalal Idulfitri 1447 Hijriah yang digelar di Universitas Yarsi, Ahad (19/4/2026).
Dalam kesempatan itu, Ferry memaparkan sejumlah persoalan mendasar yang masih dihadapi desa-desa di Indonesia.
Ia menyoroti masih minimnya infrastruktur dasar, termasuk ketersediaan listrik. Bahkan, menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga di wilayah yang tergolong maju.
“Bagaimana mengoperasionalkan koperasi kalau desanya belum memiliki listrik? Kami sampai harus berkoordinasi dengan PLN untuk menghadirkan pembangkit listrik tenaga surya skala mini,” ujar Ferry.
Selain listrik, akses internet juga menjadi tantangan besar. Ferry mengungkapkan bahwa masih terdapat belasan ribu desa yang belum terjangkau jaringan internet.
Di wilayah pesisir, kondisi nelayan juga memprihatinkan karena keterbatasan akses bahan bakar serta fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.
“Tidak ada satupun SPBU solar untuk nelayan, bahkan pabrik es pun tidak tersedia,” tegasnya.
Menanggapi persoalan tersebut, Ferry membuka peluang bagi JATTI untuk berkontribusi langsung dalam pengembangan sektor produktif desa.
Ia bahkan menjanjikan kemudahan perizinan bagi pihak yang ingin membangun fasilitas pendukung, seperti SPBU untuk nelayan.
Sementara itu, Rektor Universitas Yarsi, Fasli Djalal, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai alumni Timur Tengah memiliki kapasitas besar sebagai sumber daya manusia unggul yang dapat berperan dalam pembangunan desa.
“Alumni JATTI memiliki potensi besar sebagai motivator sekaligus ilmuwan. Dengan dukungan SDM dan jaringan yang kuat, ekonomi desa bisa berkembang pesat,” ujarnya. Ia juga menawarkan ratusan dosen sebagai mitra riset dan pendamping lapangan.
Di sisi lain, Ketua Umum DPP JATTI, Bachtiar Nasir, menyoroti tantangan global yang berdampak pada ekonomi nasional, khususnya bagi pelaku UMKM.
Ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau AI, sebagai kunci kedaulatan ekonomi di masa depan.
“AI kini menjadi infrastruktur utama peradaban. Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen, tetapi harus mampu menciptakan produk AI yang bermanfaat, beretika, kuat secara teknis, dan berbasis data lokal,” jelasnya.
UBN juga mendorong generasi muda JATTI untuk bersiap mengambil peran kepemimpinan di masa depan, baik di tingkat nasional maupun global.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya pakar ekonomi syariah Syafi’i Antonio dan Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung.
JATTI sendiri merupakan organisasi yang menghimpun alumni perguruan tinggi dari berbagai negara di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania, Sudan, dan Libya, yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak pembangunan berbasis keilmuan dan nilai-nilai keislaman di Indonesia.
(ameera/arrahmah.id)
