DAMASKUS (Arrahmah.id) – Presiden Suriah, Ahmad Asy-Syaraa, menegaskan bahwa negaranya memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan dengan mencegah meluasnya konflik ke negara-negara tetangga. Ia juga menekankan bahwa Damaskus kini menempuh jalur diplomasi untuk menyelesaikan berbagai krisis.
Dilansir Aljazeera, dalam sesi diskusi di Forum Diplomasi Antalya di Turki, Jumat (17/4), Asy-Syaraa menyatakan bahwa Suriah telah “menyelamatkan kawasan” dengan tidak membiarkan wilayahnya digunakan sebagai basis serangan yang mengancam stabilitas regional. Ia menilai tantangan yang ada saat ini membutuhkan solusi yang tidak biasa
Asy-Syaraa juga mengumumkan bahwa wilayah timur laut Suriah kini bebas dari keberadaan pangkalan militer asing, setelah keluarnya konvoi terakhir pasukan Amerika Serikat pada Kamis (16/4). Pemerintah Suriah menyambut baik penyerahan penuh seluruh situs militer yang sebelumnya dikuasai pasukan AS kepada otoritas Damaskus.
Kementerian Pertahanan Suriah menyebutkan bahwa pasukannya telah mengambil alih pangkalan Qasrak yang terletak di antara Tal Tamr dan Qamishli, Provinsi Hasakah, setelah ditinggalkan oleh pasukan koalisi internasional.
Dalam konteks regional, Asy-Syaraa turut memuji upaya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam menghentikan perang di Lebanon. Ia menegaskan bahwa Suriah terdampak langsung oleh konflik tersebut dan terus mendorong solusi damai melalui dialog.
Sebelumnya, Trump mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari di Lebanon usai melakukan pembicaraan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu. Ia bahkan mengundang kedua pihak ke Gedung Putih untuk memulai pembicaraan serius pertama sejak 1983.
Fokus pada Penarikan “Israel” dari Golan
Terkait konflik dengan “Israel”, Asy-Syaraa menegaskan bahwa pengakuan apa pun terhadap kedaulatan “Israel” atas Dataran Tinggi Golan adalah tidak sah. Ia menekankan bahwa wilayah tersebut merupakan hak mutlak rakyat Suriah.
Ia mengungkapkan bahwa pembicaraan saat ini berfokus pada tahap awal untuk mencapai “kesepakatan keamanan” yang menjamin penarikan pasukan “Israel” ke garis perbatasan tahun 1974.
Sejak 1967, “Israel” menduduki sebagian besar wilayah Golan. Situasi di Suriah pasca runtuhnya rezim Bashar al-Assad dimanfaatkan untuk memperluas kontrol atas zona penyangga serta mengumumkan runtuhnya Perjanjian Pemisahan Pasukan 1974.
“Kami tidak melihat negosiasi ini buntu, tetapi berjalan sangat sulit karena keinginan ‘Israel’ untuk tetap berada di wilayah Suriah,” ujar Asy-Syaraa, seraya menegaskan keseriusan Damaskus dalam mencapai kesepakatan yang menjaga stabilitas kawasan.
Relasi dengan Iran dan Arah Baru Kawasan
Mengenai hubungan dengan Iran, Asy-Syaraa menilai pengalaman selama 14 tahun terakhir sebagai “tidak sehat”, mengingat keterlibatan Teheran dalam mendukung rezim sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa Suriah tetap menahan diri dan tidak terlibat dalam konflik langsung melawan Iran.
Ia berharap kawasan kini memasuki fase baru yang disebutnya sebagai tahap “perbaikan jalur”, pasca gencatan senjata sementara yang mengakhiri perang terbaru.
Agenda Internal: Integrasi dan Konstitusi Baru
Di dalam negeri, Asy-Syaraa menyampaikan bahwa proses integrasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) ke dalam institusi negara telah melewati tahap-tahap utama.
Secara politik, ia mengumumkan bahwa parlemen terpilih akan menggelar sidang perdananya pada akhir bulan ini untuk merumuskan konstitusi baru. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya membangun negara yang kuat dan keluar dari era isolasi politik.
Dalam bidang ekonomi, Suriah menargetkan menjadi “lumbung pangan” sekaligus pusat energi kawasan, dengan mengandalkan kemampuan domestik dan menolak bantuan yang bermuatan politik.
AS: Saatnya Normalisasi dan Kesepakatan Regional
Sementara itu, Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah, Thomas Barrack, mengungkapkan adanya perubahan signifikan dalam lanskap militer dan politik Suriah. Ia memastikan bahwa Washington telah menyelesaikan penarikan seluruh pasukannya dari Suriah dan menyerahkan semua pangkalan militer.
Barrack juga menyatakan bahwa Presiden Suriah tidak menunjukkan keinginan untuk terlibat dalam konflik militer dengan “Israel”, seraya mencatat bahwa tidak ada serangan roket dari wilayah Suriah sejak peristiwa Thufan Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023.
Ia bahkan menilai bahwa pendekatan Damaskus mencerminkan “kecerdasan strategis” dalam menghadapi eskalasi regional.
Dalam pernyataan yang cukup mencolok, Barrack menyebut bahwa momentum saat ini membuka peluang untuk dimulainya kembali pembicaraan antara Suriah dan “Israel”, bahkan memungkinkan tercapainya kesepakatan normalisasi sebelum tercapainya kesepakatan dengan Lebanon.
Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tengah berupaya mencapai kesepakatan antara “Israel” dan Lebanon yang mencakup penghentian perlombaan senjata dan pelucutan senjata Hizbullah.
Di sisi lain, Barrack menyinggung pentingnya mencari alternatif strategis bagi jalur energi global selain Selat Hormuz, guna menjamin stabilitas pasokan energi dunia.
Menutup pernyataannya, ia mengirimkan pesan tegas kepada Iran dengan menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan militer mutlak di berbagai lini dalam menghadapi Teheran.
(Samirmusa/arrahmah.id)
