WASHINGTON (Arrahmah.id) – Seorang jurnalis yang meliput langsung dari dalam Donald Trump mengungkap gambaran mengejutkan tentang suasana di pusat kekuasaan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Ia menggambarkan kondisi yang dipenuhi ketegangan, kebingungan, dan tekanan yang kian meningkat seiring memburuknya dampak perang dengan Iran.
Dilansir dari I Paper, jurnalis Anushka Asthana menyoroti bahwa tanda-tanda kegelisahan tidak hanya tampak dalam kebijakan, tetapi juga dalam gaya komunikasi dan perilaku Trump yang dinilai semakin tidak stabil.
Pemicunya terlihat dari pernyataan juru bicara Gedung Putih, Karoline leavitt, yang menyebut Trump sebagai “orang paling tahu di ruangan”. Pernyataan ini justru dianggap mencerminkan tekanan berat yang sedang dihadapi presiden, terutama akibat lonjakan inflasi dan kenaikan harga bahan bakar yang merusak narasi keberhasilan ekonomi sebelumnya.
Perubahan besar terjadi ketika fokus pemerintahan Trump bergeser dari isu domestik ke keterlibatan penuh dalam konflik militer dengan Iran. Sejak saat itu, perang menjadi agenda utama, memicu penurunan ekonomi, meningkatnya keresahan publik, serta dorongan untuk segera mengakhiri konflik bahkan tanpa pencapaian tujuan strategis.
Retorika Memanas, Emosi Tak Terkendali
Asthana mencatat bahwa retorika Trump—terutama melalui platform Truth Social—semakin tajam dan agresif. Pernyataannya kini dipenuhi serangan terhadap media dan lawan politik, bahkan disertai kata-kata kasar serta ancaman mengejutkan.
Menurutnya, ini bukan lagi sekadar gaya politik konfrontatif, melainkan indikasi meningkatnya emosi dan potensi hilangnya kendali dalam menghadapi krisis.
Salah satu pernyataan yang paling kontroversial adalah ketika Trump menyinggung kemungkinan “lenyapnya sebuah peradaban”. Ucapan ini ditafsirkan oleh sebagian pengamat sebagai ancaman genosida, memicu kritik hukum dan moral dari berbagai pihak, termasuk tokoh-tokoh yang pernah bekerja di era Barack Obama dan Joe Biden.
Pernyataan Donald Trump mencerminkan kondisi emosi yang semakin meningkat dan mungkin menunjukkan hilangnya kendali diri (Associated Press).
Suasana Internal: Kacau dan Penuh Kecemasan
Dari dalam Gedung Putih, Asthana menggambarkan atmosfer yang sarat kegelisahan. Para jurnalis terus berdatangan untuk mengikuti perkembangan yang tak terduga, sementara pihak resmi tampak kesulitan menjelaskan pernyataan-pernyataan presiden yang kian kontroversial.
Meski Trump disebut memahami dampak ucapannya, ia tetap memilih meningkatkan eskalasi retorika.
Momen simbolik yang memperkuat gambaran ini terjadi saat perayaan Paskah di Gedung Putih. Dalam acara yang seharusnya penuh keceriaan anak-anak, Trump tiba-tiba mengalihkan suasana menjadi pidato keras menyerang Iran—sebuah kontras tajam yang disebut mencerminkan “ketidaklogisan” dalam kepemimpinannya saat ini.
Bandingkan dengan Presiden Sebelumnya
Asthana juga membandingkan gaya Trump dengan para presiden Amerika sebelumnya seperti Franklin D. Roosevelt, John F. Kennedy, dan George H. W. Bush.
Menurutnya, para pemimpin terdahulu menunjukkan ketenangan, kejelasan strategi, dan kepemimpinan yang terukur saat menghadapi krisis—berbeda dengan situasi yang kini ia gambarkan sebagai “kacau dan impulsif”.
Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa perilaku Trump mencerminkan seorang pemimpin yang berada di bawah tekanan berat—baik dari dalam negeri maupun dari panggung global—serta kesulitan mengendalikan arah krisis yang turut ia ciptakan.
Sementara pihak pemerintahan membela pendekatan tersebut sebagai taktik untuk menekan Iran, para pengkritik menilai justru sebaliknya: memperdalam krisis dan memperluas ketidakpastian di tingkat internasional.
(Samirmusa/arrahmah.id)
