TEHERAN (Arrahmah.id) - Seorang pejabat Iran menyatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan rudal mereka ke wilayah 'Israel' memiliki tingkat akurasi yang melampaui perkiraan Amerika Serikat. Klaim ini didasarkan pada citra satelit yang dimiliki Teheran, yang kini digunakan sebagai basis data untuk merancang operasi militer tahap selanjutnya. Iran menegaskan bahwa teknologi militer mereka telah berkembang pesat sejak pengalaman perang 12 hari pada Juni 2025.
Di sisi lain, Iran membantah adanya pesan mengenai gencatan senjata. Teheran menegaskan telah terjadi konsensus nasional untuk terus berjuang demi menciptakan efek getar (deterrence) jangka panjang terhadap AS dan 'Israel'.
Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi (IRGC), Laksamana Madya Alireza Tangsiri, menegaskan bahwa navigasi di Selat Hormuz berada sepenuhnya di bawah kendali Iran. Ia memperingatkan bahwa setiap kapal yang ingin melintas wajib meminta izin kepada Iran.
Iran menyinggung nasib dua kapal (Mayori Nari dan Express Rome) yang terjebak setelah mempercayai jaminan keamanan dari AS. Iran menyebut janji Donald Trump untuk mengawal tanker minyak adalah janji kosong dan memperingatkan bahwa realitas di lapangan akan membuktikan siapa yang memegang kendali.
Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan penghentian hampir total lalu lintas pelayaran, memicu kenaikan biaya asuransi, dan lonjakan harga minyak dunia yang mengancam ekonomi global.
Menanggapi sanksi baru Uni Eropa terhadap 19 pejabat dan entitas Iran, Teheran memasukkan pasukan militer Uni Eropa ke dalam daftar teroris. Iran mengancam akan memperlakukan militer Eropa sebagai kelompok teroris jika terpantau di kawasan tersebut.
Memasuki hari ke-13 sejak dimulainya agresi pada 28 Februari, Iran terus membalas serangan udara AS-'Israel' dengan gelombang rudal dan drone. Meskipun menargetkan fasilitas militer, beberapa serangan juga dilaporkan berdampak pada fasilitas sipil di negara-negara Arab tetangga.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa sanksi tersebut dijatuhkan sebagai respons atas penindasan internal di tengah berkecamuknya perang. Namun, Iran menganggap langkah Eropa ini sebagai bentuk partisipasi dalam kejahatan rezim Zionis. (zarahamala/arrahmah.id)
