TEHERAN (Arrahmah.id) - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan peluncuran gelombang serangan baru yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk klaim penghancuran unit perang elektronik di Pangkalan Udara Al-Adiri, Kuwait, Kamis (23/7/2026). Eskalasi ini menandai perluasan peringatan Teheran yang tidak hanya menyasar Washington, tetapi juga negara-negara sekutu penyedia fasilitas militer.
Dalam pernyataan resmi kantor humasnya, IRGC menyatakan bahwa pejuang mereka melancarkan serangan gabungan gelombang ke-26 dari Operasi Nasr 2, yang menyasar instalasi perang elektronik serta pusat medis terkait di Pangkalan Al-Adiri. IRGC mengeklaim serangan tersebut menewaskan dan melukai sejumlah personel AS serta merusak menara pengontrol lalu lintas udara di pangkalan tersebut.
Serangan ini disebut sebagai bentuk balasan atas gempuran AS sebelumnya pada hari yang sama, yang menghantam kawasan dekat perbatasan Shalamcheh dengan Irak. Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menewaskan dua orang dan melukai sedikitnya 11 warga sipil yang tengah melakukan perjalanan ziarah menuju makam Imam Hussein.
IRGC menuding Washington menggunakan retorika diplomasi sebagai kedok untuk memulihkan kapasitas militer, seraya menegaskan bahwa Iran tidak akan tertipu oleh skema gencatan senjata yang memberi kesempatan bagi AS untuk mengisi ulang logistik dan amunisi.
Dalam pernyataannya, IRGC juga menyoroti keterlibatan Inggris setelah terungkapnya penggunaan Pangkalan Udara RAF Fairford di Inggris oleh pembom B-1 AS. Teheran secara terbuka memperingatkan London agar tidak memfasilitasi operasi militer terhadap wilayah Iran. Tuduhan tersebut diperkuat oleh pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang mengecam keputusan Inggris dan memperingatkan bahwa negara-negara penyokong agresi akan dianggap sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab.
Di tengah simpurnya laporan mengenai serangan di Kuwait, seorang sumber senior keamanan-politik Iran yang berbicara kepada Al Mayadeen membantah klaim bahwa Teheran menargetkan fasilitas pembangkit listrik milik Kuwait. Ia menyebut laporan tersebut sebagai disinformasi dan kampanye bendera palsu (false flag) 'Israel'. Meski mengakui menyerang kepentingan militer AS di Kuwait, Iran menegaskan tidak pernah membidik infrastruktur sipil negara tuan rumah.
Sementara itu, Penasihat Senior Militer Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan terhadap infrastruktur kritis Iran akan dibalas dengan respons yang jauh lebih keras. Melalui platform X, Rezaei mengecam serangan AS di dekat perbatasan Shalamcheh sebagai cerminan keputusasaan Washington di tengah kebuntuan strategi militer. (zarahamala/arrahmah.id)
