TEHERAN (Arrahmah.id) - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Rabu (26/8/2026) menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi persyaratan Tehran dan kembali menjalankan nota kesepahaman yang sebelumnya dicapai kedua negara.
Juru bicara IRGC Hossein Mohibi mengatakan pembukaan kembali jalur strategis tersebut bergantung langsung pada pelaksanaan kesepakatan oleh Washington.
“Jika AS menghentikan penghalangannya dan kembali ke nota kesepahaman, kami dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam kerangka kesepakatan yang telah dicapai,” kata Mohibi.
Namun, ia menegaskan, jika AS tidak menerima persyaratan Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka dalam kondisi apa pun.
Mohibi mengatakan selat tersebut masih berada di bawah kendali Iran dan tidak ada kapal perang “musuh” yang saat ini berada di perairannya. Menurutnya, kapal-kapal tersebut telah didorong hingga setidaknya 400 kilometer dari selat.
Ia juga menegaskan kapal tidak dapat melintasi jalur strategis itu tanpa izin Tehran.
Mohibi mengatakan Iran telah berunding dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz sejak sekitar satu bulan lalu. Kedua negara disebut telah mencapai sejumlah kesepahaman yang dapat diterima bersama.
Pembahasan mencakup pembagian wilayah perairan selat serta pendapatan dari kapal-kapal yang melintas.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi sebelumnya mengatakan Iran dan Oman telah menyepakati jalur transit sementara selebar 7 mil melalui Selat Hormuz. Namun, ia menegaskan kesepakatan tersebut tidak berarti selat telah dibuka kembali.
Negosiasi lebih lanjut akan menentukan jalur transit permanen.
Iran berulang kali mengaitkan pembukaan penuh Selat Hormuz dengan pelaksanaan komitmen AS dalam nota kesepahaman Islamabad.
Kesepakatan 14 poin tersebut ditandatangani Iran dan AS pada pertengahan Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Isinya mencakup penghentian permusuhan, pembukaan Selat Hormuz, pencabutan blokade laut AS, serta dimulainya proses negosiasi selama 60 hari.
Tehran kemudian menuduh Washington gagal menjalankan sejumlah ketentuan kesepakatan.
Pernyataan terbaru IRGC menegaskan bahwa pelaksanaan nota kesepahaman tersebut menjadi prasyarat Iran untuk membuka kembali salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. (zarahamala/arrahmah.id)
