Memuat...

Trump Lancarkan “Gempuran Ekonomi” terhadap Iran, Akankah Teheran Tunduk atau Justru Membalas?

Samir Musa
Rabu, 26 Agustus 2026 / 14 Rabiulawal 1448 22:44
Trump Lancarkan “Gempuran Ekonomi” terhadap Iran, Akankah Teheran Tunduk atau Justru Membalas?
Trump Lancarkan “Gempuran Ekonomi” terhadap Iran, Akankah Teheran Tunduk atau Justru Membalas?

TEHERAN (Arrahmah.id) — Setelah berbulan-bulan menghadapi perang dan tekanan militer, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini mengalihkan konfrontasi dengan Iran ke medan ekonomi. Washington berupaya menekan jalur perdagangan dan keuangan Iran untuk memaksa kepemimpinan Teheran memberikan konsesi.

Namun, “hari pendaratan ekonomi” yang diumumkan Washington pada Senin (24/8/2026) dan disebut sebagai salah satu serangan finansial terbesar terhadap lawannya itu justru dapat menjadi ujian ganda.

Pertanyaannya, apakah Amerika Serikat benar-benar mampu mengisolasi Iran? Atau justru sanksi tersebut akan mengulang kegagalan kebijakan “tekanan maksimum” sebelumnya dan mendorong Teheran semakin keras serta meningkatkan eskalasi?

Dilansir dari Financial Times, kampanye terbaru Trump sebagian besar menghidupkan kembali resep yang digunakan pada 2018, ketika ia menarik AS dari kesepakatan nuklir dan menjatuhkan ratusan sanksi berat terhadap Iran dengan harapan memaksa Teheran berunding dari posisi yang lemah.

Namun, kebijakan tersebut tidak berhasil menghasilkan konsesi dari Iran. Sebaliknya, Teheran meningkatkan aktivitas nuklirnya dan memperkeras sikap terhadap negara-negara Barat.

Analis Iran Saeed Leylaz menilai Iran “tidak runtuh” di bawah kebijakan tekanan maksimum sebelumnya dan tidak akan runtuh kali ini. Menurutnya, Iran kini semakin berpengalaman dalam menghindari sanksi, sementara dunia juga semakin terpolarisasi dan terdapat sejumlah negara di kawasan yang bergantung pada kelangsungan perdagangan dengan Iran.

Salah satu titik lemah utama kampanye baru Washington adalah ketergantungannya pada kerja sama sejumlah negara yang belum tentu bersedia sepenuhnya mengikuti tekanan AS, terutama China, Turki, Irak, dan Rusia.

China Menjadi Kunci

Menurut Financial Times, China merupakan ujian terbesar bagi “hari pendaratan ekonomi” tersebut. China adalah mitra dagang terbesar Iran sekaligus pembeli utama minyak negara tersebut.

Sementara itu, Axios menilai operasi yang diluncurkan pemerintahan Trump sejauh ini lebih menyerupai kampanye sanksi bertahap daripada sebuah “pendaratan ekonomi” yang menentukan.

Departemen Keuangan AS telah menargetkan lebih dari 60 entitas yang terkait dengan Iran dan memperluas cakupan sanksi sekunder. Namun, Washington belum menetapkan tenggat waktu yang jelas bagi negara dan perusahaan yang menjadi sasaran.

Pertanyaan utamanya adalah apakah Trump benar-benar bersedia menjatuhkan sanksi terhadap bank, kilang minyak, dan perusahaan pelayaran China jika Beijing menolak bergabung dalam upaya mengisolasi Iran.

Persoalan tersebut menjadi semakin sensitif karena Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan ke Washington pada September mendatang.

Mantan pakar intelijen militer "Israel", Dani Citriunovich, memperingatkan bahwa penerapan sanksi sekunder tidak mudah dilakukan. Iran telah bertahun-tahun mengembangkan jaringan perusahaan cangkang dan perantara untuk menghindari sanksi.

Ekonomi Iran di Ambang Tekanan Berat

Bukan berarti sanksi tidak memberikan dampak. Kebijakan tekanan maksimum sebelumnya menyebabkan ekonomi Iran mengalami kontraksi, nilai rial merosot, inflasi meningkat, ekspor minyak menurun, dan akses Iran terhadap sebagian besar sistem keuangan global terputus.

Namun, Teheran kemudian mengembangkan ekonomi paralel yang memanfaatkan perusahaan perantara serta jalur perdagangan melalui Turki, Oman, dan Uni Emirat Arab. Iran juga memperluas ekspor nonmigas, termasuk produk baja dan petrokimia.

Kondisi saat ini dinilai jauh lebih berat. Nilai rial kembali mencatat pelemahan tajam, inflasi mendekati tingkat yang sangat tinggi, sementara fasilitas industri dan energi mengalami kerusakan akibat perang.

Pemerintah Iran bahkan menyatakan ekspor minyak negara tersebut telah mendekati titik nol.

Meski demikian, Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengatakan situasi ekonomi “sangat sulit”, tetapi tidak berarti negara tersebut akan runtuh.

Menurutnya, Teheran telah mengambil sejumlah langkah antisipasi, termasuk menyebarkan cadangan valuta asing ke berbagai lokasi untuk memastikan kebutuhan pangan dan obat-obatan tetap dapat dipenuhi.

Tekanan Ekonomi Bisa Memicu Eskalasi

Di sisi lain, The New York Times memperkirakan krisis ekonomi yang semakin dalam justru dapat membuat Iran semakin enggan menyerah.

Kepemimpinan Iran dapat menilai bahwa melakukan eskalasi memiliki biaya yang lebih rendah dibandingkan menerima seluruh tuntutan Washington.

Sejumlah pakar yang dikutip surat kabar tersebut memperingatkan bahwa jika AS memaksa negara lain memutus sisa jalur ekonomi Iran, Teheran justru dapat memperoleh insentif lebih besar untuk menunjukkan bahwa keterlibatan dalam upaya mengisolasi Iran juga memiliki konsekuensi.

Pakar Iran Sina Toosi mengatakan semakin besar tekanan Amerika terhadap negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran, semakin besar pula dorongan Teheran untuk menunjukkan bahwa upaya mengisolasinya akan menimbulkan biaya regional.

Kekhawatiran tersebut muncul bersamaan dengan ancaman Iran untuk menghentikan ekspor minyak melalui kawasan Teluk apabila negara-negara regional ikut serta dalam kampanye Amerika.

Jika benar terjadi, langkah tersebut berpotensi kembali memicu konfrontasi dan mendorong kenaikan harga minyak, gas, serta bahan bakar di pasar global.

Sementara itu, kolumnis The Telegraph Ambrose Evans-Pritchard menilai “hari pendaratan ekonomi” tersebut sejak awal menghadapi kemungkinan kegagalan. Menurutnya, Amerika Serikat kini tidak lagi memiliki pengaruh sebesar satu atau dua dekade lalu untuk memberlakukan blokade keuangan global terhadap negara-negara yang menjadi lawannya.

Ujian bagi Washington dan Teheran

Washington membutuhkan kerja sama China, Rusia, India, Turki, Eropa, serta pusat-pusat keuangan utama dunia untuk menjalankan strategi tersebut.

Namun, China saat ini memiliki kemampuan lebih besar untuk menahan tekanan Amerika. Beijing bahkan berpotensi merespons sanksi sekunder dengan mengambil tindakan terhadap mineral-mineral penting atau aset keuangan Amerika.

Konfrontasi yang berkepanjangan juga berisiko memperburuk krisis energi global. Kenaikan harga bahan bakar dan gas, ditambah menurunnya cadangan energi Eropa, dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi dan biaya hidup masyarakat.

Trump akhirnya menghadapi dilema yang rumit.

Jika sanksi berhasil mencekik perekonomian Iran tetapi gagal memaksa Teheran menyerah, tekanan tersebut justru dapat mendorong Iran melakukan eskalasi militer yang mengancam pasar energi dunia.

Sebaliknya, jika Washington mundur dari kebijakan tersebut, strategi “tekanan maksimum” dapat dipandang tidak mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Karena itu, “hari pendaratan ekonomi” terhadap Iran bukanlah pertempuran yang hasilnya sudah ditentukan. Kampanye tersebut menjadi ujian terhadap kemampuan Washington menggunakan senjata ekonomi dan sanksi di tengah dunia yang semakin multipolar, sekaligus menguji kemampuan Teheran menanggung tekanan tanpa mengalami keruntuhan.

(Samirmusa/arrahmah.id)