TEL AVIV (Arrahmah.id) - Sistem pertahanan udara 'Israel' dikabarkan berada dalam titik kritis. Menurut laporan Semafor pada Ahad (15/3/2026), pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 'Israel' telah menginformasikan Washington tentang kondisi stok pencegat rudal balistik mereka yang sangat rendah. Kelangkaan ini terjadi akibat intensitas serangan Iran yang luar biasa, termasuk penggunaan munisi tandan (cluster munitions) yang memperumit upaya intersepsi.
Meskipun Menteri Luar Negeri 'Israel', Gideon Sa’ar, secara terbuka membantah laporan tersebut, para pejabat AS menyatakan bahwa situasi ini sudah diprediksi. Di saat yang sama, Iran terus menekan dengan meluncurkan gelombang serangan ke-54, yang dilaporkan menghantam dekat kediaman konsuler AS di Tel Aviv serta wilayah Bnei Brak dan Ramat Gan.
'Israel' memasuki perang ini dengan kondisi stok yang sudah menipis akibat bentrokan hebat dengan Iran pada pertengahan 2025 (perang 12 hari). Pencegat rudal balistik adalah salah satu senjata termahal di dunia (berharga jutaan dolar per rudal), sementara drone dan rudal Iran jauh lebih murah untuk diproduksi secara massal.
Berbeda dengan 'Israel', pemerintahan Donald Trump melalui Sekretaris Pers Karoline Leavitt menegaskan bahwa stok amunisi AS lebih dari cukup untuk melindungi personel dan kepentingan mereka di kawasan. Trump juga memerintahkan kontraktor pertahanan untuk mempercepat produksi senjata.
Laporan CNN menyebutkan Iran mulai menambahkan munisi tandan pada rudal balistiknya. Hal ini memaksa sistem pertahanan Israel bekerja ekstra keras dan mempercepat habisnya cadangan pencegat.
Penasihat kebijakan luar negeri Iran menyatakan bahwa Teheran tidak melihat adanya peluang diplomasi saat ini dan siap untuk konfrontasi jangka panjang.
Serangan terbaru pada Ahad (15/3) menyebabkan satu orang terluka di Bnei Brak, sebelah timur Tel Aviv, akibat jatuhnya fragmen rudal. Penutupan informasi mengenai level stok amunisi adalah hal lumrah dalam kondisi perang, namun ketergantungan 'Israel' pada teknologi dan pasokan AS kini menjadi sorotan utama di tengah ancaman perang yang disebut Trump akan berlangsung selama yang diperlukan. (zarahamala/arrahmah.id)
