Memuat...

'Israel' Peringatkan Turki soal “Petualangan Berbahaya” di Suriah

Hanoum
Sabtu, 22 Agustus 2026 / 10 Rabiulawal 1448 03:40
'Israel' Peringatkan Turki soal “Petualangan Berbahaya” di Suriah
Tangkapan layar. [Foto: Youtube]

YERUSALEM (Arrahmah.id) -- 'Israel' memperingatkan Turki agar tidak memperluas keterlibatan militernya di Suriah setelah 'Israel' menyerang pangkalan udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib. Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz menuding Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan membawa negaranya ke dalam “petualangan berbahaya” dan menegaskan 'Israel' tidak akan membiarkan pihak mana pun mengancam keamanannya.

Dilansir DW (21/8/2026), peringatan tersebut disampaikan Katz dua hari setelah militer 'Israel' melancarkan serangan udara terhadap pangkalan Abu al-Duhur. 'Israel' mengatakan serangan itu dilakukan karena adanya indikasi bahwa Suriah akan mengizinkan pasukan Turki ditempatkan di fasilitas tersebut. Namun, Ankara membantah tuduhan itu dan menyatakan tidak ada personel militer Turki di pangkalan tersebut ketika serangan berlangsung.

Dalam pernyataan melalui media sosial, Katz secara langsung menyasar Erdoğan. “Erdoğan menyeret Turki ke dalam petualangan berbahaya di Suriah. 'Israel' tidak akan membiarkan pihak mana pun mengancam keamanannya,” kata Katz, sebagaimana dikutip Reuters.

Ketegangan bermula setelah 'Israel' menyerang Abu al-Duhur pada Selasa. Pemerintah 'Israel' mengeklaim tindakan tersebut bertujuan mencegah perubahan terhadap status quo keamanan yang disepakati dengan Suriah. Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu mengatakan 'Israel' sebelumnya telah menyampaikan peringatan kepada Damaskus agar tidak mengizinkan kehadiran militer Turki di lokasi tersebut.

Namun, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani membantah adanya rencana membangun pangkalan militer Turki. Menurutnya, fasilitas Abu al-Duhur sedang dipulihkan untuk digunakan oleh Angkatan Udara Suriah.

“Tidak ada niat untuk mendirikan pangkalan Turki, tidak ada niat untuk membangun kehadiran militer Turki permanen atau menempatkan pasukan Turki di lokasi tersebut,” kata al-Shaibani dalam wawancara dengan Axios.

Turki juga menolak tuduhan 'Israel'. Kementerian Pertahanan Turki menyatakan tidak ada personel militer Turki di Abu al-Duhur sebelum maupun ketika serangan 'Israel' berlangsung. Ankara menilai tuduhan 'Israel' tidak berdasar dan menegaskan akan terus mendukung kedaulatan serta integritas wilayah Suriah.

Perselisihan ini menambah ketegangan antara 'Israel' dan Turki yang sebelumnya sudah memburuk akibat perang Gaza dan perbedaan kepentingan kedua negara di Suriah. Turki merupakan salah satu pendukung utama pemerintahan baru Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa, sementara 'Israel' telah meningkatkan operasi militernya di wilayah Suriah sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024.

Amerika Serikat kemudian berupaya mencegah konflik Israel-Turki berkembang menjadi konfrontasi terbuka. Utusan khusus AS untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, mengatakan Washington berusaha membentuk mekanisme deconfliction yang melibatkan 'Israel', Turki, dan Suriah untuk mencegah kesalahpahaman militer dan meredakan ketegangan.

Sementara itu, Damascus menyatakan masih terbuka terhadap perundingan dengan 'Israel' mengenai pengaturan keamanan. Al-Shaibani mengatakan setiap kesepakatan harus memperhatikan kepentingan keamanan kedua pihak sekaligus menghormati kedaulatan Suriah. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa serangan terhadap Abu al-Duhur bukan sekadar insiden militer, tetapi telah berkembang menjadi perselisihan strategis yang melibatkan 'Israel', Turki, Suriah, dan Amerika Serikat. (hanoum/arrahmah.id)