GAZA (Arrahmah.id) - Harapan ribuan pasien dan korban luka di Jalur Gaza untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri kembali pupus. Otoritas penyeberangan Palestina mengumumkan bahwa pihak militer 'Israel' berencana menutup total Penyeberangan Rafah pada Senin (20/4/2026), yang secara otomatis menghentikan seluruh proses evakuasi medis darurat.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak 'Israel' mengenai alasan maupun durasi penutupan tersebut. Penutupan ini menjadi pukulan telak bagi sistem kesehatan Gaza yang sudah lumpuh total akibat perang berkepanjangan.
Berdasarkan data dari Bulan Sabit Merah Palestina, situasi di lapangan sangat memprihatinkan. Tercatat lebih dari 18.000 pasien dan korban luka yang sangat membutuhkan evakuasi medis mendesak. Sejak penyeberangan dibuka kembali secara terbatas pada Februari lalu, hanya sekitar 700 pasien yang berhasil keluar dari Gaza.
Penyeberangan selama ini beroperasi di bawah protokol yang sangat ketat dan birokrasi yang rumit, di mana warga yang melintas sering dilaporkan mengalami interogasi dan penahanan panjang oleh militer Israel.
Penutupan ini terjadi di tengah arus pelanggaran gencatan senjata yang terus dilaporkan terjadi hampir setiap hari. Pada Senin pagi (20/4), serangan udara 'Israel' di kamp pengungsian Al-Bureij dan Gaza City dilaporkan kembali merenggut nyawa warga sipil dan menyebabkan sejumlah orang luka-luka.
Pemerintah Gaza mencatat setidaknya 2.400 pelanggaran gencatan senjata dalam enam bulan terakhir, yang mencakup serangan mematikan, blokade akses bantuan, hingga praktik kelaparan yang disengaja.
Keputusan menutup Rafah ini menambah daftar panjang ketidakpatuhan 'Israel' terhadap poin-poin kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025.
'Israel' dinilai gagal memenuhi janji untuk membuka kembali penyeberangan Rafah secara penuh sesuai fase pertama kesepakatan.
Di sisi lain, laporan dari Channel 14 'Israel' menyebutkan bahwa militer 'Israel' kini tengah bersiap untuk melancarkan kembali "perang intensif" di Gaza mulai bulan depan. Menteri Keuangan 'Israel', Bezalel Smotrich, bahkan secara terbuka terus mengampanyekan pendudukan penuh dan pembangunan permukiman di Gaza.
Hamas telah menyerukan komunitas internasional untuk menekan 'Israel' agar mematuhi fase pertama gencatan senjata guna membuka ruang bagi dialog fase kedua. Namun, di tengah eskalasi retorika perang yang terus memanas, penutupan akses vital ini semakin menegaskan kerentanan posisi kemanusiaan di Gaza, di mana infrastruktur sipil telah hancur hingga 90% selama dua tahun terakhir. (zarahamala/arrahmah.id)
