YERUSALEM (Arrahmah.id) - Situasi di Tepi Barat dan Yerusalem yang diduduki semakin memanas pada Senin (20/4/2026). Pasukan pendudukan 'Israel' melancarkan serangkaian aksi agresif, mulai dari penyerbuan ke kompleks Masjid Al-Aqsha, penghancuran properti warga, hingga kampanye penangkapan massal yang menyasar puluhan warga Palestina.
Otoritas Kegubernuran Yerusalem melaporkan bahwa 159 pemukim 'Israel' menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa melalui Gerbang Mughrabi di bawah pengawalan ketat kepolisian. Di saat yang sama, di kawasan Silwan, selatan Masjid Al-Aqsa, buldoser milik kotamadya 'Israel' dikerahkan ke lingkungan Al-Bustan untuk melakukan pembersihan paksa sisa-sisa reruntuhan rumah warga yang telah dihancurkan dalam beberapa pekan terakhir.
Klub Tahanan Palestina melaporkan lonjakan drastis dalam aksi penangkapan. Sejak Ahad malam (19/4) hingga Senin pagi (20/4), sekitar 80 warga Palestina, termasuk anak-anak dan mantan tahanan, ditangkap dalam operasi penggerebekan dan investigasi lapangan. Mayoritas penangkapan (lebih dari 60 orang) terjadi di kota Beit Ummar, utara Hebron.
Pihak Palestina menyebut kebijakan ini sebagai kebijakan pembalasan kolektif. Metode investigasi lapangan kini menjadi standar, di mana keluarga dipaksa keluar dari rumah, properti dirusak, dan anggota keluarga diinterogasi di tempat.
Di wilayah utara dan selatan Tepi Barat, tindakan pendudukan tidak hanya menyasar individu, tetapi juga fondasi ekonomi warga.
Di desa Al-Lubban ash-Sharqiya, selatan Nablus, buldoser 'Israel' terus menebangi ratusan pohon zaitun dan badam produktif selama dua hari berturut-turut. Kemarin saja, lebih dari 10 dunum lahan pertanian dihancurkan dan 250 pohon produktif dicabut.
Di kota Tarqumiya, barat laut Hebron, sebuah rumah dua lantai yang menjadi tempat tinggal bagi 10 orang dihancurkan oleh militer dengan dalih tidak memiliki izin bangunan.
Di kota Anabta, sebelah timur Tulkarm, kegiatan sekolah terpaksa dihentikan akibat operasi militer yang disertai tindakan kekerasan fisik dan pengrusakan rumah-rumah warga.
Menurut data Klub Tahanan Palestina, sejak awal 2026, telah terjadi sekitar 2.000 kasus penangkapan di Tepi Barat. Serangkaian aksi ini semakin memperburuk ketegangan di wilayah tersebut, di mana operasi militer hampir terjadi setiap hari, menciptakan atmosfer ketakutan yang masif bagi sekitar 3 juta warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat. (zarahamala/arrahmah.id)
