Memuat...

'Israel' Usir Tim Militer Inggris yang Pantau Kekerasan Pemukim di Tepi Barat

Zarah Amala
Sabtu, 12 September 2026 / 1 Rabiulakhir 1448 12:01
'Israel' Usir Tim Militer Inggris yang Pantau Kekerasan Pemukim di Tepi Barat
Kekerasan oleh pemukim 'Israel' terhadap warga Palestina meningkat di Tepi Barat (AP).

RAMALLAH (Arrahmah.id) - 'Israel' memerintahkan tim militer Inggris yang bertugas di Tepi Barat untuk meninggalkan wilayah tersebut. Pengusiran itu terjadi ketika tim tersebut justru bersiap memperluas misinya untuk memantau kondisi keamanan dan kekerasan pemukim 'Israel'.

Menurut laporan The Telegraph yang mengutip pejabat serta sumber pemerintah Inggris, tim yang dikenal sebagai British Support Team itu beranggotakan sekitar 10 personel militer dan bermarkas di Ramallah. Mereka sebelumnya bertugas membantu melatih pasukan keamanan Otoritas Palestina dalam kerangka pengaturan keamanan pasca-Perjanjian Oslo.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tim tersebut juga menjadi sumber informasi bagi Inggris dan Amerika Serikat mengenai situasi keamanan di Tepi Barat, termasuk meningkatnya kekerasan pemukim.

Sumber Inggris mengatakan tim tersebut mengirim laporan mengenai kondisi lapangan melalui kantor Koordinator Keamanan AS. Komunikasi dan laporan anggota tim terkait kekerasan pemukim disebut secara rutin dicegat oleh agen 'Israel'.

'Israel' kemudian memerintahkan seluruh anggota tim meninggalkan wilayah tersebut dalam waktu tujuh hari. Padahal, sekitar 30 mantan personel militer dan polisi yang bekerja sebagai tenaga kontrak sebelumnya dijadwalkan bergabung untuk memperbesar tim.

Menurut The Telegraph, keputusan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara London dan Tel Aviv, setelah Inggris bersama sejumlah negara lain memberlakukan pembatasan perdagangan terhadap permukiman 'Israel' di Tepi Barat.

Pada Selasa (8/9/2026), 12 negara, termasuk Inggris, Prancis, Spanyol, dan Kanada, menyatakan akan melarang perdagangan dengan permukiman Israel yang dibangun di wilayah Palestina yang diduduki.

Inggris menilai keluarnya tim tersebut dapat mengurangi kemampuan London dan Washington untuk memperoleh informasi langsung mengenai situasi di Tepi Barat.

Ketegangan di wilayah itu terus meningkat sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023, dengan operasi militer 'Israel' dan serangan pemukim terhadap warga Palestina berlangsung semakin intensif. (zarahamala/arrahmah.id)