Memuat...

Peringatan 11 September Memanas, Wali Kota New York Zahran Mamdani Diserang: Mengapa Tak Sebut Pelaku?

Samir Musa
Jumat, 11 September 2026 / 30 Rabiulawal 1448 22:49
Peringatan 11 September Memanas, Wali Kota New York Zahran Mamdani Diserang: Mengapa Tak Sebut Pelaku?
Wali Kota New York, Zohran Mamdani (AFP)

NEW YORK (Arrahmah.id) — Wali Kota New York Zahran Mamdani mendapat sorotan dan kritik dari sejumlah tokoh serta aktivis Amerika Serikat setelah menyampaikan pesan dalam peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001.

Kontroversi muncul karena dalam pesannya, Mamdani menyoroti penderitaan warga New York dan semangat solidaritas yang muncul setelah serangan tersebut, tetapi tidak secara eksplisit menyebut para pelaku, organisasi Al Qaeda, maupun menyebut serangan itu sebagai aksi terorisme.

Mamdani menghadiri misa peringatan di Katedral St. Patrick yang dipimpin Uskup Agung Ronald A. Hicks untuk mengenang para korban serangan 11 September.

Melalui akun media sosialnya pada Kamis (11/9), Mamdani menulis bahwa 25 tahun lalu warga New York menyaksikan penderitaan yang tidak terbayangkan. Namun, menurutnya, masyarakat kota tersebut menghadapi masa itu dengan semangat yang dipenuhi cinta, pengorbanan, dan solidaritas.

“Ketika kita mengenang mereka yang telah pergi, mari kita terus saling mendukung dan memperbarui tekad untuk membangun kota yang lebih baik, kota yang layak bagi warisan yang mereka tinggalkan,” tulis Mamdani.

Pesan tersebut kemudian memicu perdebatan luas di media sosial. Kritik terutama diarahkan pada pilihan kata Mamdani yang dianggap hanya berbicara tentang korban, penderitaan, dan solidaritas tanpa menyebut siapa yang melakukan serangan.

Konsultan politik Amerika Serikat Jason DeMeister mengatakan Mamdani berbicara mengenai peristiwa 11 September “seolah-olah itu bencana alam, seperti gempa bumi”. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh kelompok yang disebutnya sebagai teroris Islam ekstremis.

Kritik serupa disampaikan jurnalis dan reporter Amerika Serikat Ryan Saavedra. Ia mempertanyakan mengapa Mamdani tidak menggunakan kata “pembunuhan” ketika membicarakan para korban 11 September.

Menurut Saavedra, para korban tidak sekadar “meninggal”, tetapi “dibunuh” oleh para pelaku serangan.

Penulis Amerika Serikat yang mengkhususkan diri pada isu internasional dan hubungan diplomatik, Dr. Daniel Schatz, juga menyoroti hal tersebut. Ia mengatakan hampir 3.000 orang tidak sekadar meninggal dalam peristiwa 11 September, tetapi “dibunuh dalam serangan teroris”.

Schatz menilai pidato Mamdani memang berbicara tentang penderitaan, solidaritas, dan kehilangan, tetapi tidak menyebut para pelaku maupun ideologi yang mendorong mereka melakukan serangan.

“Peristiwa 11 September memiliki pelaku, Wali Kota New York. Mengapa kata-kata penghormatan Anda tidak menyebut mereka?” tanyanya.

Kritik Berubah Menjadi Serangan Politik

Sebagian reaksi bahkan melampaui kritik terhadap pilihan kata dalam pesan Mamdani dan berubah menjadi serangan terhadap dirinya secara pribadi.

Sejumlah komentator Amerika menuduh Mamdani meremehkan arti penting serangan 11 September. Mereka menggunakan bahasa keras untuk mengkritik wali kota New York tersebut, termasuk dengan mengaitkan pernyataannya dengan sikap politiknya.

Aktivis Jennifer Callahan juga mengkritik Mamdani dan menuduhnya tidak mengecam apa yang disebutnya sebagai “terorisme Islam ekstremis”.

Sementara itu, pembawa acara televisi Amerika Serikat Spencer Pratt turut menyerang Mamdani dengan keras dan menilai pernyataannya mengenai serangan 11 September disampaikan dengan bahasa yang terlalu samar.

Peringatan 11 September yang Sensitif

Perdebatan tersebut menunjukkan betapa sensitifnya isu 11 September di Amerika Serikat. Bagi sebagian pengkritik Mamdani, penyebutan korban dan solidaritas saja dianggap tidak cukup karena peringatan tersebut juga berkaitan dengan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku tertentu.

Mamdani sendiri memilih menekankan pengalaman warga New York serta semangat kebersamaan yang muncul setelah tragedi tersebut.

Pesan itu disampaikan pada peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001, yang setiap tahun dikenang di Amerika Serikat. Serangan tersebut menewaskan sekitar 3.000 orang dan menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah politik Amerika modern.

Sumber informasi mengenai reaksi dan kritik terhadap pesan Mamdani berasal dari berbagai unggahan di media sosial.

(Samirmusa/arrahmah.id)