WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September 2001, Al Qaeda tidak lagi menjadi jaringan teroris global dengan kekuatan dan pengaruh seperti pada era Osama bin Laden, tetapi organisasi dan cabang-cabangnya belum hilang. Struktur pusat Al Qaeda melemah akibat operasi kontraterorisme selama bertahun-tahun, sementara kelompok-kelompok afiliasinya tetap aktif terutama di Afrika dan Asia, memanfaatkan konflik lokal, lemahnya pemerintahan, serta ketidakstabilan keamanan.
Serangan 11 September 2001 menewaskan hampir 3.000 orang dan menjadi titik balik keamanan internasional. Amerika Serikat kemudian melancarkan perang di Afghanistan untuk menghancurkan Al-Qaeda dan menggulingkan Taliban yang menjadi tuan rumah jaringan tersebut, sebelum menginvasi Irak pada 2003.
Seperempat abad kemudian, sejumlah analis menilai operasi militer berhasil menghancurkan sebagian besar kepemimpinan inti Al-Qaeda, tetapi tidak menghilangkan ideologi maupun jaringan jihadisme yang berkembang di berbagai wilayah. Peringatan 25 tahun serangan itu pada 11 September 2026 kembali memunculkan pertanyaan mengenai hasil jangka panjang perang melawan teror.
Menurut Lars Berger, profesor studi terorisme di German Federal University of Administrative Sciences, operasi kontraterorisme setelah 2001 memang memberikan pukulan besar terhadap Al-Qaeda.
“Serangan 11 September merupakan kegagalan strategis besar bagi Al-Qaeda,” kata Berger kepada Deutsche Welle (DW) (11/9/2026).
Ia menjelaskan, kampanye militer di Afghanistan serta kerja sama badan intelijen dan kepolisian telah secara signifikan melemahkan organisasi tersebut. Osama bin Laden sendiri akhirnya tewas dalam operasi Amerika Serikat di Abbottabad, Pakistan, pada Mei 2011, sementara penggantinya, Ayman al-Zawahiri, tewas dalam serangan Amerika di Kabul pada 2022.
Namun, kemunduran kepemimpinan pusat tidak berarti berakhirnya jaringan. Setelah kehilangan banyak kemampuan operasionalnya, Al-Qaeda semakin mengandalkan cabang regional yang memiliki ruang gerak lebih besar.
DW mencatat keberadaan jaringan terkait Al-Qaeda di kawasan Sahel Afrika, Somalia, Yaman, dan Afghanistan. Di Sahel, Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) berkembang sebagai salah satu cabang paling berpengaruh, sementara Asy Syabaab tetap menjadi kekuatan penting di Somalia. Pola ini membuat ancaman Al-Qaeda semakin bersifat lokal dan tidak selalu terlihat sebagai operasi yang dikendalikan langsung oleh pusat organisasi.
Rüdiger Lohlker, profesor emeritus studi Islam di University of Vienna, mengatakan perubahan tersebut harus dilihat dalam konteks konflik lokal.
“Kita secara mendasar perlu menjauh dari perspektif yang berpusat pada Eropa,” ujarnya kepada DW.
Menurut Lohlker, Al Qaeda dan kelompok jihad lainnya sejak awal memiliki keberadaan yang jauh lebih kuat di luar Eropa dan Amerika Serikat daripada yang sering terlihat dari perspektif Barat. Ia juga menilai lemahnya struktur negara dan konflik lokal menjadi lingkungan yang memungkinkan kelompok-kelompok tersebut mempertahankan pengaruh.
Perubahan strategi juga menjadi ciri penting Al Qaeda setelah 9/11. Menurut Berger, organisasi tersebut semakin menjauh dari pola serangan besar terhadap apa yang disebut kelompok jihad sebagai “musuh jauh” dan lebih banyak membangun pengaruh melalui struktur lokal.
Di sejumlah wilayah Afrika, misalnya, kelompok terkait Al Qaeda berusaha membangun aliansi dengan masyarakat setempat, memanfaatkan konflik sosial dan etnis, serta memperluas pengaruh di wilayah yang lemah secara pemerintahan. Pergeseran tersebut membuat jaringan jihad lebih sulit diberantas hanya dengan menargetkan kepemimpinan pusat.
Di sisi lain, Al Qaeda juga kehilangan sebagian daya tariknya dibandingkan rival utamanya, Islamic State atau ISIS. Behnam Heidenreuter-Said, pakar terorisme dan kepala pusat riset Strategic Police Research di Hamburg Police Academy, mengatakan generasi muda jihad cenderung lebih tertarik kepada ISIS karena kelompok tersebut pernah menampilkan serangan dan ekspansi yang lebih spektakuler.
Menurutnya, Al Qaeda mengambil pendekatan jangka panjang, sedangkan ISIS berusaha menunjukkan keberhasilan secara cepat untuk menarik pengikut. Namun, ketika kekhilafahan teritorial ISIS runtuh, Al Qaeda justru tetap bertahan dalam bentuk yang lebih tersebar.
Persoalannya, kemampuan Al Qaeda saat ini sulit diukur secara pasti. Heidenreuter-Said mengatakan informasi mengenai aktivitas pusat organisasi semakin terbatas.
“Semua orang sepakat bahwa saat ini hampir tidak ada informasi mengenai Al-Qaeda dan kita memang tidak tahu apa yang sedang dilakukannya,” ujarnya kepada DW.
Perdebatan mengenai warisan Al Qaeda juga muncul dalam analisis Hesham Gaafar di The New Arab. Ia membedakan antara tujuan ideologis bin Laden dan dampak strategis serangan 9/11.
Menurut Gaafar, cita-cita bin Laden untuk membangun kekhilafahan gagal. Namun, respons Amerika Serikat setelah 9/11 menghasilkan perang panjang di Afghanistan dan Irak yang kemudian menimbulkan konsekuensi besar bagi posisi Amerika di Timur Tengah. Gaafar menilai hal tersebut menjadi paradoks sejarah: tujuan utama bin Laden tidak tercapai, tetapi serangan yang ia rancang ikut memicu rangkaian peristiwa yang mengubah keseimbangan kekuatan kawasan.
Pandangan tersebut tidak berarti Al Qaeda “memenangkan” perang melawan Amerika Serikat. Analisis Financial Times pada peringatan 25 tahun 9/11 bahkan menyimpulkan bahwa baik Amerika Serikat maupun bin Laden pada akhirnya mengalami kegagalan strategis dalam mencapai tujuan masing-masing. Bin Laden tewas dan cita-cita mendirikan kekhilafahan global tidak terwujud, sementara Amerika Serikat harus menghadapi biaya manusia, finansial, dan politik yang sangat besar akibat perang berkepanjangan.
Dampak perang melawan teror juga mengubah prioritas keamanan dunia. Dua dekade setelah 9/11, Amerika Serikat kini menghadapi persaingan dengan China dan Rusia, perang di berbagai kawasan, ancaman ekstremisme domestik, serta perkembangan teknologi yang memungkinkan aktor non-negara memperoleh kemampuan baru.
The New Yorker menilai terorisme telah berubah menjadi ancaman yang lebih terfragmentasi, sementara kemenangan taktis terhadap Al Qaeda dan ISIS tidak otomatis menghilangkan ideologi yang mendasarinya.
Pada akhirnya, seperempat abad setelah 9/11 menunjukkan bahwa Al Qaeda mengalami kemunduran besar tetapi belum hilang. Organisasi yang dahulu berpusat pada kepemimpinan bin Laden kini lebih banyak terlihat melalui jaringan regional dengan agenda yang berkelindan dengan konflik lokal.
Ancaman tersebut juga tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan satu organisasi melakukan serangan besar, melainkan oleh kemampuannya bertahan dalam lingkungan konflik, memanfaatkan kelemahan negara, dan mempertahankan ideologi setelah struktur pusatnya dihancurkan.
Karena itu, 25 tahun setelah 9/11, pertanyaan bagi dunia bukan lagi semata-mata apakah Al Qaeda masih ada, melainkan dalam bentuk apa jaringan itu akan bertahan ketika dunia telah bergerak jauh dari era bin Laden. (hanoum/arrahmah.id)
