Memuat...

Kematian Pria Maroko Saat Ditahan Polisi Picu Gelombang Protes di Italia

Hanoum
Rabu, 22 Juli 2026 / 8 Safar 1448 06:42
Kematian Pria Maroko Saat Ditahan Polisi Picu Gelombang Protes di Italia
Tiga cuplikan dari video yang merekam operasi polisi yang menewaskan Abderrahim Fakir di Bologna [Foto : ANSA]

BOLOGNA (Arrahmah.id) -- Gelombang protes dan bentrokan mewarnai Kota Bologna, Italia, setelah seorang pria keturunan Maroko bernama Abderrahim Fakir meninggal dunia saat ditahan dan dibekuk polisi. Peristiwa yang terjadi pada 20 Juli 2026 itu memicu kemarahan publik setelah video penangkapan korban beredar luas di media sosial, memperlihatkan Fakir berulang kali meminta pertolongan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

Dilansir Arab News (21/7/2026), Abderrahim Fakir, 42 tahun, merupakan pengusaha kecil di bidang jasa kebersihan dan pemindahan barang yang telah lama tinggal di Italia. Menurut laporan kepolisian, petugas dipanggil ke kawasan Pilastro, Bologna, setelah menerima laporan mengenai seorang pria yang bertindak agresif dan merusak kendaraan. Saat upaya penangkapan berlangsung, Fakir ditahan dalam posisi tengkurap oleh sejumlah petugas sebelum kemudian kehilangan kesadaran.

Rekaman video yang direkam warga sekitar dan kemudian viral menunjukkan Fakir berteriak meminta bantuan sambil berulang kali mengeluhkan kesulitan bernapas ketika tubuhnya ditekan ke tanah oleh petugas. Beberapa saat kemudian ia berhenti bergerak dan dinyatakan meninggal dunia. Kejadian tersebut segera memunculkan perbandingan dengan kasus George Floyd di Amerika Serikat pada 2020 yang juga meninggal saat ditahan polisi.

Kemarahan publik memuncak pada demonstrasi yang digelar di pusat Kota Bologna. Ribuan orang turun ke jalan menuntut keadilan bagi Fakir. Demonstrasi kemudian berubah menjadi bentrokan setelah sebagian massa melempar petasan, botol, dan benda lainnya ke arah aparat. Polisi antihuru-hara merespons dengan meriam air dan gas air mata. Sedikitnya puluhan petugas dilaporkan mengalami luka-luka dalam kerusuhan tersebut.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni meminta penyelidikan menyeluruh terhadap insiden tersebut. Dalam pernyataannya, Meloni menegaskan bahwa seluruh fakta harus diungkap tanpa keberpihakan kepada siapa pun.

"Sangat penting untuk memastikan setiap tanggung jawab dengan ketelitian setinggi-tingginya. Kebenaran harus dicari secara menyeluruh, tanpa prasangka dan tanpa keringanan bagi siapa pun," kata Giorgia Meloni melalui akun resminya, dikutip dari Reuters.

Di sisi lain, keluarga korban menuntut pertanggungjawaban aparat. Saudari korban, Khadija Fakir, menyampaikan kesedihannya kepada media Italia dan meminta proses hukum dilakukan secara transparan.

"Anda tidak bisa mati seperti ini. Saya ingin keadilan untuk saudara saya," ujar Khadija Fakir.

Kejaksaan Bologna telah membuka penyelidikan resmi terkait penyebab kematian Fakir. Penyidik meminta rekaman kamera tubuh (bodycam) petugas yang terlibat dan memerintahkan pemeriksaan forensik guna memastikan apakah prosedur penangkapan yang dilakukan sesuai aturan atau terdapat unsur kelalaian maupun penggunaan kekuatan berlebihan. Beberapa media Italia melaporkan bahwa sejumlah petugas dan tenaga medis yang berada di lokasi kini turut diperiksa sebagai bagian dari investigasi.

Kasus ini kembali memicu perdebatan nasional mengenai penggunaan kekuatan oleh aparat kepolisian, perlakuan terhadap komunitas migran, serta akuntabilitas penegak hukum di Italia. Organisasi hak asasi manusia dan sejumlah partai oposisi mendesak pemerintah memastikan proses penyelidikan berjalan independen agar tidak menimbulkan ketidakpercayaan publik yang lebih luas.

Sementara itu, situasi keamanan di Bologna masih menjadi perhatian otoritas setempat. Pemerintah kota dan aparat keamanan meningkatkan pengamanan untuk mengantisipasi aksi demonstrasi lanjutan yang diperkirakan akan terus berlangsung hingga hasil investigasi resmi diumumkan. (hanoum/arrahmah.id)