KABUL (Arrahmah.id) -- Krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Afghanistan memaksa sejumlah keluarga mengambil langkah ekstrem demi bertahan hidup, termasuk menjual anak-anak mereka sendiri. Fenomena memilukan itu terjadi di tengah kemiskinan akut, kelaparan, dan runtuhnya ekonomi Afghanistan sejak Imarah Islam Afghanistan (IIA) kembali berkuasa pada 2021.
Dilansir BBC (24/5/2026), sejumlah ayah di Afghanistan menjual anak perempuan maupun laki-laki mereka kepada keluarga lain karena tidak lagi mampu membeli makanan. Praktik tersebut banyak ditemukan di wilayah pedesaan Afghanistan yang dilanda kekeringan, pengangguran, dan minim bantuan kemanusiaan.
Salah satu warga Afghanistan bernama Abdul Malik mengaku terpaksa menjual putrinya demi menyelamatkan anggota keluarga lain dari kelaparan. Abdul Malik berkata, “Jika saya tidak menjual anak saya, keluarga kami akan mati kelaparan.”
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jutaan warga Afghanistan kini berada dalam kondisi rawan pangan akut. Program Pangan Dunia (WFP) menyebut Afghanistan masih menjadi salah satu krisis kelaparan terbesar di dunia dengan banyak keluarga hanya mampu makan sekali sehari.
Banyak keluarga miskin di Afghanistan juga menikahkan anak perempuan mereka di usia sangat muda sebagai cara memperoleh uang atau mengurangi beban ekonomi keluarga. UNICEF memperingatkan praktik pernikahan anak dan penjualan anak meningkat tajam sejak krisis ekonomi melanda negara tersebut.
Dalam wawancara dengan BBC, seorang ibu bernama Bibi Aisha mengaku hidup keluarganya hancur akibat kelaparan berkepanjangan. Ia mengatakan, “Kami tidak punya roti, tidak punya pekerjaan, dan anak-anak kami menangis setiap malam.”
Krisis Afghanistan semakin parah setelah bantuan internasional berkurang drastis dan ekonomi negara itu terisolasi dari sistem keuangan global. Bank Dunia dan PBB menyebut pembekuan aset Afghanistan serta sanksi internasional memperburuk kemiskinan dan pengangguran di negara tersebut.
Selain krisis ekonomi, Afghanistan juga menghadapi kekeringan berkepanjangan dan kerusakan sektor pertanian akibat konflik puluhan tahun. Organisasi kemanusiaan internasional memperingatkan jutaan anak Afghanistan kini berisiko mengalami malnutrisi berat jika bantuan pangan tidak segera ditingkatkan.
Meski IIA berulang kali menyatakan kondisi ekonomi mulai membaik, berbagai lembaga internasional menyebut situasi kemanusiaan Afghanistan masih sangat kritis. Banyak warga kini bergantung sepenuhnya pada bantuan internasional untuk bertahan hidup di tengah musim dingin dan harga pangan yang terus meningkat. (hanoum/arrahmah.id)
